Array
(
[text] =>
Baca, dan berikan terus dukungan untuk cerita ku dengan vote dan comment. Vote untuk menyukai dan membantu agar cerita terus berlanjut.
Aku tidak bisa berjanji untuk update dengan cepat, tapi aku akan selalu update untuk kalian walaupun waktu nya tidak pasti.
--------------------**--------------------
Malam ini bulan tidak menampakkan dirinya, tapi bintang-bintang menebarkan pesona keindahannya. Dua orang pemuda sedang merebahkan dirinya dibawah langit-langit malam, beralaskan rerumputan hijau yang bergoyang diterpa angin malam.
Seorang di antara mereka beranjak, memposisikan dirinya untuk duduk. Dan seorang lagi masih dengan tenang nya melayangkan pandangan nya ke arah langit malam.
“Apa malam ini lebih indah daripada aku?” arga yang semula duduk kini menurunkan wajahnya menutupi pemandangan yang telah dilihat bagas. Mata bagas mengerjap menatap wajah arga yang kini ada di depan pandangan nya, jarak mereka seakan menipis. Angin menghembus membuat rambut mereka sedikit berterbangan diterpa angin. Malam itu adalah malam yang indah, dan menjadi semakin indah saat mereka berdua menyatukan wajah mereka masing-masing dan membuat bibir bersentuhan hingga buaian angin yang lembut membuat mereka hanyut dalam ciuman itu. Hangat, menyatu dengan manisnya kecupan dan jilatan yang diberikan masing-masing, rasa yang menyatu membuat salah satu jantung dari mereka berdegub dengan begitu kencang. Aliran darah berdesir dengan kuat.
Hingga arga menghentikan aksinya, air liur menetes di sudut bibirnya. Wajahnya memerah, segera menengadah ke atas untuk mencari udara yang tadi terbuang. Bagas beranjak dari tempatnya, wajahnya juga memerah bahkan lebih merah membuat nya terlihat seperti kepiting rebus dengan rambut yang berantakan.
“Sebaiknya kita hentikan ini..”
Bagas berbalik menatap wajah arga yang nampak serius. Arga menatap bagas dengan mantap, tidak ada keraguan sama sekali membuat desiran darah bagas yang tadinya kuat semakin melemah dan mungkin urat nya mengecil jika itu bisa terjadi.
“Jadi untuk apa hari ini? Untuk kenangan saja?”
Bagas mencengkram rumput hijau yang berada dibawah nya dengan kuat. Arga hanya diam tertegun menatap ke langit-langit malam, bintang-bintang itu menebarkan pesona nya dengan genit berkerlap-kerlip di atas dua pemuda itu.
Flashback
“Karena kamu sudah sembuh, sebaiknya kita pergi jalan-jalan..”
Ajakan itu membuat bagas tersenyum bahagia, mungkin jika dia seorang wanita maka dia akan melompat-lompat kegirangan karena senang.
“Apa aku bisa menyebut ini dating?” bagas mengerjap dan kemudian tertawa atas pertanyaan yang ia lontarkan. “aku hanya bercanda.. haha”
Arga ikut tertawa, mengusap kepala bagas dengan gemasnya. “Mungkin itu bisa kamu gunakan sebagai ungkapan.” Arga memeluk bagas dan menggengam tangan nya menarik nya keluar.
Mereka berjalan-jalan di pinggiran trotoar menuju taman kota, di taman kota mereka membeli beberapa jajanan. Duduk-duduk di taman untuk sekedar mengistirahatkan kaki mereka. Kemudian berjalan lagi ke took jam tangan, memilih-milih jam tangan hingga bagas menemukan apa yang ia cari dan membelikan satu untuk arga.
Kemudian mereka kembali berjalan-jalan, mampir ke café untuk menghangatkan tubuh dengan kopi hangat juga beberapa kue manis. Tak terasa hingga hari menjelang sore, mereka berdua kembali menyusuri kota dengan pergi ke pasar, hanya sekedar untuk melihat-lihat barang-barang yang tak bisa dilihat di toko maupun supermarket, melihat-lihat barang antic dan berfoto-foto ria di pameran lukisan serta patung.
Dan hingga malam hari ini mereka memutuskan untuk ke danau, di tepi danau pemandangan sangat indah berbagai tumbuhan tumbuh dengan subur dan berwarna-warni. Arga bahkan tak melepaskan genggaman tangan nya sejak mereka di pasar tadi, membuat bagas merasakan getaran yang bertambah besar pada dada nya rasanya ia ingin terbang sekarang juga.
Flashback end.
Dan sekarang mereka menikmati pemandangan langit malam di tepi danau yang di kacaukan oleh kata-kata yang keluar dari mulut arga. Bagas hanya memalingkan tubuh nya tak ingin menatap orang di belakang nya yang kini membuat nya kecewa, ini adalah kedua kali nya ia dibuat kecewa oleh orang yang sama.
Arga masih pada posisinya tak mampu menatap ke belakang, ia sadar sepenuhnya kalau ia telah salah bicara hingga bagas kecewa lagi. Tapi yang ingin ia katakana sebenarnya bukan itu.
“Terlalu takut untuk mengambil keputusan!”
Hatinya berteriak membuat arga menutup telinga nya, ia takut untuk terluka. Ia takut untuk percaya, ia takut untuk mengambil keputusan walaupun ia sadar kalau selama ini orang yang ia cintai adalah bagas, tapi ia takut kalau perasaan ini salah. Takut dan berusaha menghiraukan perasaan ini hingga membuat bagas terluka, seberapa pun ia mengelak perasaan itu tetap ada dan semakin bertambah saat ia berusaha melenyapkan nya.
“Maafkan aku. Bagas aku bingung, ini terlalu cepat..” Arga bergetar di tempatnya, meraihkan tangan nya untuk menggenggam tangan bagas tapi kini tangan itu ditepis dengan kasar. Bagas berbalik menatap arga yang terlihat bingung, wajahnya gusar mungkin ia terlalu memikirkan ini.
“Aku mengerti. Ini salah, hentikan saja.” Bagas tersenyum menahan sesuatu dalam dirinya yang akan meledak. Arga sadar akan hal itu, ia tahu kalau pria yang berdiri dengan tegar di depan nya itu memendam sesuatu yang tak mampu ia tahan tapi berusaha ia sembunyikan. Arga berjalan perlahan mendekati bagas dan merentangkan tangan nya, memeluk bagas yang dengan cepat membalas pelukan nya.
“Tidak lagi. Aku tidak ingin.. ini sakit.. aku tidak ingin melihat mu tersakiti.. biarkan aku bersama mu” tubuh bagas bergetar hebat saat ia mengatakan hal yang sangat ingin ia ungkapkan.
Arga melepaskan pelukan nya, menatap tak percaya pada bagas.
“Kenapa? Sangat peduli padaku?” arga menunduk kan wajahnya menatap rerumputan hijau yang terinjak-injak.
“Karena –“ bagas menggapaikan salah satu tangan arga ke dadanya, “Perasaan ini. Dada ini terasa sesak saat melihat mu memanggul beban mu sendiri, jadi biarkan aku. Biarkan aku mengatasi nya bersama dengan mu..”
Dan air mata berhasil lolos dari mata arga, kini ia tahu apa yang menyebabkan ia tak bisa melepaskan perasaan nya pada pria ini. Perhatian, bagas juga memberikan kebahagian padanya walaupun ia tak banyak membantu, tapi bagas juga mau merasakan rasa sakit pada dirinya. Mungkin ini yang membuat kaitan nya begitu kuat, tidak pernah ada orang yang memperlakukan nya seperti ini selain bagas, ini yang membuat dirinya semakin nyaman.
“Terima kasih. Karena telah mencintaiku, aku tidak tahu. Tapi jika pantas apa aku boleh menjadi k---“ arga diam menyeka tetesan air mata harunya dan terkekeh geli pada dirinya sendiri.
“Aku ingin kamu jadi kekasih ku.. jika itu pantas” kini berlian pada mata bagas yang semula redup kini berpendar dan berkilau, ia sangat senang dan bahagia.
“Aku sudah berjanji untuk melindungi mu, menjadi tempat keluh kesahmu. Aku serius akan hal itu..” bagas menjelaskan.
“Haha, iya iya kamu selalu bilang hal konyol itu..aku mengerti” Kini arga menarik bagas ke dalam dekapan nya, mereka beranjak menjauh dari tepi danau itu. dan berjalan bersama untuk pulang.
“Kamu akan tinggal dengan rehan?” Tanya bagas memecah keheningan, arga belum menjawab ia hanya tersenyum. “Tentu, karena tidak mungkin aku serumah dengan mu.”
“kenapa tidak?”
“karena terlalu berbahaya.” Arga mengerling nakal, membuat bagas merona. Sedang kan arga hanya terkekeh karena kepolosan bagas.
“Dasar mesum! Aneh!” bagas berteriak dan berlari, arga menatap sekeliling nya gadis-gadis menertawakan nya, dengan kesal ia segera mengejar bagas yang sudah lari jauh darinya.
-----------------**------------------
Bagas menghentikan langkahnya karena tidak kuat berlari lagi, ia mengistirahatkan kakinya dan berjalan pelan. Arga yang masih berlari tak bisa mengrem kakinya hingga ia menubruk bagas yang berjalan di depan nya. Kaki bagas terkilir dan tersundul batu kerikil hingga sedikit berdarah, arga yang tak sengaja kini terlihat sangat panik. Bagas hanya terkrekeh dan berusaha berdiri dengan usaha nya hingga ia bisa berdiri, ia memandangi wajah arga yang sangat cemas dan terlalu panik hingga tak menyadari kalau bagas kini sudah berdiri dengan pincang, bagas menarik kaos arga hingga arga tersadar dan segera membantu bagas dengan memapah nya.
“Aku terlalu ceroboh, maafkan aku..” arga membopong bagas, hingga mata bagas menatap sebuah kedai eskrim dan menyuruh arga untuk mengantarkan nya kesana.
“Sebagai permintaan maaf, maka belikan aku eskrim.” Bagas tertawa sambil terus memegangi pundak arga, arga hanya mendengus melirik sebal pada bagas. Tapi ia tetap membelikan bagas eskrim dan menunggu nya menghabiskan eskrim itu.
“Kamu gamau?” bagas menyodorkan mangkuk eskrim nya.
Arga hanya menggeleng dan berlagak merajuk pada bagas. Hingga bagas menyunggingkan sudut bibirnya paham dengan pikiran arga. Bagas menyendokkan eskrim nya dan menyodorkan nya di depan mulut arga.
“Sekarang, kamu mau kan?” bagas menurun naik kan alis nya, dan menyodokkan sendok eskrim nya ke bibir arga, hingga dingin menjalar ke mulut arga membuat nya menbuka mulutnya dengan segera dan melumat habis eskrim itu.
Mereka sudah menghabiskan eskrim nya, dan kembali berjalan menuju apartment bagas.
Mereka kini sudah sampai dan berada di dalam apartment bagas, kenapa mereka bisa sampai dengan cepat? Karena tadi sepulang dari kedai mereka menaiki taxi untuk menuju apartment karena tidak mungkin berjalan lagi.
BAGAS POV’S
Aku duduk di sofa ruang tamu, arga turun ke bawah ku dan melepaskan sepatu ku. ia menggulung celanaku hingga tumit dan menampakkan luka di betis ku, arga meniup-niup luka ku dan berdiri bergegas ke kamar mandi serta mengambil kotak p3k yang berada di dekat kulkas dapur.
Arga kembali padaku dan meletakkan semua yang telah ia ambil ke meja. Kemudian mencelupkan handuk kecil ke air dan mengusapkan nya ke luka ku membuat ku merasa perih. Ia mengobati kaki ku dengan teliti hingga kaki ku tak merasakan luka lagi. Ujung kaki ku yang terkilir pun tak luput dari perawatan nya, ia memijat-mijat nya dan mengolesi nya hingga kaki ku terasa ringan dan mudah di gerakkan kembali.
Manik matanya indah bagaikan batu pualam yang berkilat, rasanya senang sekali jika ia terus dekat padaku seperti ini. Aku masih tidak percaya dengan keputusan nya tadi tapi kurasa arga membuat keputusan yang benar, dan jika pun salah aku akan berusaha agar ia tak menjauh dan tersakiti lagi, hingga ia yakin aku bersungguh-sungguh.
“Apa yang kamu pikirkan?” arga mengejutkan ku, aku menatap lurus ke depan dan tersenyum. “Terima kasih.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut ku.
“Tidak masalah, kamu lebih sering menolongku.” Arga mengusap-ngusap kepalaku, membuat ku merasa nyaman layaknya anak kucing yang dielus-elus oleh pemilik nya.
“Oh iya, kamu mau makan?” aku berdiri dan mulai berjalan untuk pergi ke dapur.
“tidak perlu, aku bisa memasak sendiri. Istirahat aja..”
Aku hanya tersenyum, tapi tetap memaksakan diriku untuk pergi ke dapur.
"Oh, c'mon! Kamu ga bisa terus jadi penolong ku, aku juga ingin" arga membuat nada sedih dalam bicaranya, aku merasa sedikit tak enak tapi aku juga tidak suka untuk diam saja.
"Kamu bisa menolong ku memasak.." ucap ku, dan berusaha berjalan ke dapur dibantu oleh arga.
Di dapur aku menyuruh arga untuk mengambil beberapa bahan yang akan di masak. Arga mengambil beberapa brokoli dan buah kol, juga wortel. Mungkin kali ini aku akan membuat sup untuk menghangatkan tubuh kami berdua.
Aku dan arga memasak bersama, saling bersenda gurau membuat dapur ku yang semula sunyi kini penuh dengan suara tawa dan gaduh.
Setelah masakan selesai. arga menyiapkan persajian untuk hidangan spesial buatan kami di meja makan.
Kami menikmati makan malam dengan hikmat. Karena tidak terdapat perbincangan serius, aku kira arga juga sedang tidak ingin membicarakan sesuatu. Sebenarnya aku berharap dia membahas sesuatu bersamaku.
“Aku kabur dari rumah.”
Aku tersedak saat sup ku sudah masuk ke ujung tenggorokan ku mendengar pembicaraan yang tiba-tiba itu. “K-kenapa?” aku memicingkan mataku, dan menaruh sendok ku ke mangkuk bermaksud untuk menjeda makan ku.
“Aku tidak bisa terus berada dibawah tekanan nya. A-kku seperti tidak berguna..”
Raut wajahnya berubah seketika. Dia membutuhkan seseorang, dan aku ingin menjadi seseorang itu. Saat aku melihat matanya aku dapat melihat ke dalam nya, terlihat begitu banyak luka yang berpendar dan tersimpan. Ia kesepian, terluka dan tak tahu arah. Itu yang membuat dirinya selalu merasa tak berguna.
“Jadi sekarang bagaimana?”
“Aku tidak tahu, aku baru saja akan mencari tahu apa yang akan ku lakukan selanjutnya tapi entahlah..”
“Jangan selalu memendam nya sendiri.. aku sekarang bersama kamu ga, kamu bisa cerita dan terbuka pada ku kan?” aku tidak bisa diam saja, aku tahu aku tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi setidaknya aku bisa meringankan beban nya.
“Sebaiknya habiskan makan malam mu, gas. Kita bisa bercerita setelah makan.”
Aku mengangkat bahuku, dan menyelesaikan makanan ku yang tadinya terhenti.
Waktu makan pun berakhir, aku dibantu arga menuju ke ruang utama. Kami bermaksud menonton acara hiburan untuk mengisi waktu karena aku belum ingin tidur. Walaupun sejak tadi arga memaksa untuk istirahat, tapi mataku tidak lelah. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya lebih lama.
Waktu sudah menunjukan pukul 10.15 pm, dan kami sedang asyik menonton film box movies bersama. Arga juga menceritakan kejadian yang baru-baru ini di alami nya dan menceritakan hal yang membuat hatiku mencelos, saat itu aku salah paham dan kini aku tahu semua alasannya. Aku terus tersenyum menatap wajahnya yang sibuk bercerita hingga jam menunjukkan pukul 11.00 pm.
Aku mematikan tayangan televisi yang sejak tadi menyala sendiri tanpa kami hiraukan, karena terpaku pada obrolan panjang. Kini aku tahu dan aku merasa lega karena dia mau bercerita walaupun aku tahu masih banyak yang tersembunyi dari balik matanya.
Tapi sinar yang semula padam itu kini perlahan menyala walaupun dengan cahaya yang redup. Tapi aku berharap aku bisa membuat nya bersinar kembali. Aku ingin menjadi segalanya, aku tahu aku egois tapi aku ingin memiliki apapun yang ada padanya karena aku mencintainya.
BAGAS POV’S END.
Bagas berbaring pada kasurnya, dan tengah mencoba menutup matanya. Selang beberapa waktu ia terlelap membuat wajah yang begitu tenang. Arga keluar dari kamar mandi.
“Erm, Bagas aku pinjam kaos kamu ya? Eh ---“ arga terdiam sejenak dan tersenyum. Sambil menghanduki rambutnya yang basah ia berjalan ke arah bagas yang kini tertidur dan membuat dengkuran halus.
“Kenapa kamu yang jadi pacarku?” arga terkekeh geli melihat bagas yang tidur dengan pose yang cukup ekstrim. Arga menarik selimut yang tertindih oleh kaki bagas dan menyelimutinya, diam sejenak arga menelusuri matanya ke arah wajah yang kini menjadi kekasihnya itu, wajah yang menawan, tampan, manis. Tak ada gambaran yang membuat orang kesal saat melihatnya, karena saat memandang wajah nya maka kalian akan tersenyum.
Cup –
Kecupan ringan mendarat di kening bagas. “Terima kasih.” Arga berjalan mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu nakas sebagai penerangan.
Setelah memakai pakaian nya. Jam menunjukan tepat pukul 00.00. arga merebahkan tubuhnya di samping bagas memposisikan tubuhnya sembari memeluk bagas, dan mereka tidur dengan diterangi rembulan dan bintang-bintang yang menari seakan ikut bahagia melihat kebersamaan mereka.
----------------------------------------**------------------------------------------
Maaf untuk kali ini sedikit tidak sesuai dengan harapan kalian, karena aku tidak bisa setiap saat menulis.
Komen jika kalian ingin memberi masukan dan kritikan PEDAS juga apapun, you are free to criticize, I would greatly appreciate it!
UNKNOWN
[text_hash] => 2e9d973c
)
What do you think?