Chapter 19: Making Love?

Array
(
[text] =>

Aku memutuskan memberanikan diri untuk menolong arga dengan bantuan radit dan rehan, dengan info dari rehan aku berhasil menemukan lokasi dimana arga di sekap.

Aku berlari sekuat tenagaku untuk bisa bersama dengan arga lagi.

Ku mohon, tetap lah bersamaku. Jangan pernah membuatku khawatir dan merindukan mu seperti ini.

Aku sakit, hatiku mencelos mendapati arga dengan keadaan seperti ini, keadaan yang membuatku ingin terus bersamanya, melindungi nya.

"Arga!!!"

Aku berteriak, tubuhku dipenuhi memar, aku baru saja menghajar orang-orang ayahnya dengan tanganku sendiri.

Aku baru saja mengeluarkan seluruh kekuatan yang tersembunyi dibalik rasa takutku, hanya demi seseorang. Seseorang yang selalu hadir di hari-hariku, seseorang yang mengubah jalan hidup ku dan mengubah pandangan ku padanya.

"Ku mohon sadarlah! Aku mohon!" Aku melepaskan semua simpul dan rantai yang membelenggu tubuh nya, tubuh hangat dan kekar yang selalu berusaha merengkuh ku tapi terus ku hindari, tubuh yang begitu kuat tetapi menyedihkan.

Aku berusaha membawanya keluar, aku tak akan membiarkan arga tersiksa lagi.

Aku tahu ia pria tangguh yang bisa memberontak, tapi aku juga tahu ia hanya bersifat seperti itu untuk menutupi kelemahannya.

Kesakitan dan derita yang ditanggungnya selalu terpancar di sudut damai wajah lelahnya.

Aku membawanya ke apartment ku dengan terseret-seret, radit dan rehan hanya membantuku berkelahi dan menelpon polisi selanjutnya aku berjuang sendiri.

Untuk hatiku, untuk seseorang yang mengaku kekasihku.

"Arga.. sampai kapan kamu pingsan?"

Jemariku bergetar hebat, aku takut terjadi sesuatu padanya, tapi aku juga tidak mau melibatkan dokter untuk sekarang.

Tapi apa yang harus ku lakukan? Sejak siang tadi arga masih tak sadarkan diri, tubuhnya pucat penuh memar, luka, dan dingin.

'Ini bukan akhir dari segalanya kan? Aku bisa melindungimu kan?'

Aku kembali menangisi kebodohanku, aku memeluk erat tubuh tak sadarkan diri itu, aku ingin melihatnya tersenyum ke arahku.

Aku kehabisan akal ku untuk bertindak, aku terlalu lembek dan lemah, aku menyakiti diriku sendiri.

"Ba--gas"

Aku mengerjap, tak percaya. Aku melihat ke depan ku, tangan besarnya merengkuhku. Sudut bibirnya bergerak menyebut namaku.

Aku tersenyum, aku memeluknya semakin erat, air mataku masih membanjiri tapi aku tahu ini yang disebut orang lain dengan air mata bahagia.

-----------**------------

ARGA POV'S

Bagas menangis sejadi-jadinya sambil memeluk ku, aku berusaha bangkit dari posisiku.

Meraih tubuh nya yang bergetar hebat.

"Sssttt.. diamlah, aku bersamamu."

Bagas tersenyum menatap ku, matanya sembab.

Bajunya terlihat kotor dan tubuhnya, dengan cepat aku menarik lengan nya melihat beberapa memar, di kakinya dan pipinya.

"Berkelahi?"

"Bodoh! Aku dihajar dan menghajar untuk menyelamatkan mu!"

Bagas memukul dadaku ringan, aku kembali merengkuhnya dan mengecup kedua matanya, aku sangat merindukannya.

Tubuhku memang sangat lemah saat ini, tapi saat seseorang yang kau cintai bersamamu, perasaan yang semula layu kini mekar kembali, rasanya aku baru saja keluar dari mesin charge.

"Jangan menatapku kayak gitu bagas, aku gak akan kemana-mana lagi.."

Aku mengecup bibir mungil nya, bibir yang memanggil namaku, memarahi ku, bibir yang berbicara padaku dan hanya milik ku.

Aku ingin merasakan kembali manis yang selama ini hilang.

Bagas melenguh di setiap kecupan dan jilatan ku.

Meremas rambutku, pakaian yang kami kenakan sudah tidak rapi lagi, jemari tangan bagas menggapai-gapai perut dan dada bidang ku, berusaha meluapkan semua kerinduan ini, aku sangat merindukan nya.

Aroma tubuh yang memabukkan, ciuman yang manis tapi berbisa itu seperti pil dan obat-obatan yang membuat ku ketagihan, kaki yang mengejang dan ingin disentuh lebih itu membuat ku semakin bergairah.

"Jangan membuatku tegang."

Aku berbisik sesekali menggigiti telinga bagas.

"Engghh-- aku tidak!"

Bagas membuka mulutnya melenguh sepanjang aku mengecupi dan menciumi tengkuk lehernya.

"Ahh-mmm berhenti, arga kumohon!"

Aku tersenyum kecil, tapi tetap pada aktivitas ku, aku tahu bagas sedang bertarung dengan gairahnya.

"Aku tahu kamu menyukai nya, jangan mengelak.."

Aku mendongak, manatap manik mata yang dipenuhi gairah, bibir terbuka yang meneteskan air liur, dada yang naik turun dengan keringat. Membuat ku semakin buta akan gairah yang ditunjukkan makhluk yang begitu indah ini.

Aku tahu kecintaan ini salah, tapi aku mencintainya, mencintai segala yang ada padanya.

Aku berdebar saat menatap matanya, aku tersenyum saat melihatnya asyik dengan bukunya, tak peduli sekitar.

Aku merasa nyaman saat bersamanya, aku merasa hangat saat memeluk nya.

Aku merasa rapuh saat dia bersedia disisi ku untuk menolongku, dan aku bahagia saat memiliki nya.

Apa aku salah jika mencintainya? Apa aku salah dengan cinta yang tak normal ini?

Apa aku akan dibenci dunia dan tuhan?

Tapi aku mencintainya, dan aku tahu dia juga begitu.

Aku mengecup bibirnya, melumatnya dalam, mencium nya dengan lembut. Aku tak ingin melihat nya menangis dan sedih karena ku lagi, aku tak ingin menyakitinya lagi.

Aku kembali mengecup pelupuk matanya yang terpejam menikmati sentuhan ku.

Aku memutar balik tubuhnya, menindihnya dan menatap lekat manik matanya yang indah.

"Jangan menbuat ku gila lagi, jangan mempermainkan ku!! Bodoh!"

Bagas memukul-mukul dadaku kasar, terisak mencengkram kuat lengan ku, membuat ku meringis kesakitan karena bagas mencengkram kuat tepat pada bekas cambukan yang masih menyisakan luka memar pada kulit tubuh ku.

"Maaf, membuat mu seperti ini.."

Tubuhnya diam tak bergeming, berhenti bergetar dibawah ku.

Nafas nya terasa berat menyentuh kulitku.

Aku kembali menciumi bibir nya, mengecup setiap inchi lekuk wajahnya.

Lengkungan tipis terlihat pada sudut bibir bagas, perasaan ku meluap-luap.

Aku ingin memiliki nya, memberikan semua rasa yang kurasakan selama ini.

Tangan ku bergerak menyentuh titik sensitif pada dadanya, mulutku bergerak mundur ke bawah menyusuri tiap lekuk leher nya yang terangkat memberikan ruang lebihnya untuk ku, memberikan leluasaan agar aku dapat menciumi dan menggigiti ringan leher nya.

Terus memberikan tanda merah indah yang terukir di setiap sudut lehernya.

ARGA POV'S END.

-------------**-------------

Arga terus menyusuri tubuh ku tanpa berhenti, ia memberikan tanda kepemilikan nya pada setiap inchi tubuh ku.

Aku meremas kuat rambut nya saat ia menggigiti nipple ku.

"Anhhh---arga, berhenti anhh"

Suara ku tertahan-tahan merasakan letupan hasrat yang menyeruak dari dalam tubuh ku.

Lesakan lidahnya pada bibir ku membuat ku semakin merasa panas.

Ciuman ini tak lagi lembut melainkan ciuman panas berbisa, lidah kami saling bergulat.

Tangan ku terus menggapai-gapai pundak nya menyapu tubuh nya yang kini penuh keringat di atas ku.

Aku tak pernah seliar ini sebelum nya, dan melakukan hal semacam ini? Ini belum pernah terjadi dalam hidup ku.

Hanya bersama arga, aku bisa melakukan hal yang tak pernah ku rasakan sebelum nya.

Tubuh ku menegang saat ku rasakan batangan tumpul milik ku di remas kuat oleh tangan besar nya.

Aku mendesis, saat jemari nya memainkan milik ku, tanpa sadar melepas seluruh lapisan pakaian yang ku kenakan hingga wajah ku memerah karena malu.

"Kenapa? Jangan menutupi tubuh mu, aku sudah lihat semuanya kok"

Arga berbisik tepat di telingaku, membuat ku bergidik.

Tangan nya merengkuh tubuh polos ku dan menyentuh perlahan kulit perut ku, bergerak menuruni tubuh ku dan kembali bermain dengan batangan tumpul milik ku.

"Engghh---!"

Aku tersentak menegang saat cairan ku menyemprot keluar melumuri tangan arga dan sedikit mengenai wajahnya, arga menjilati jemarinya dan sisa-sisa sperma yang melekat pada tubuh bawahku, membuat ku merinding tak karuan merasakan sapuan lidahnya dibawah tubuh ku.

"Aghhh! Apa yang kamu laku-kannnahn?"

Tubuh ku melengkung saat sesuatu memasuki belakangku, aku merasakan nya bergerak-gerak menelisik lubang belakang ku.

Jemari arga menari-nari di dalam sana, ia mengeluar masukkan jemari nya bermain sendiri dengan tubuh ku.

Yang bisa ku lakukan hanya meremas rambut nya kasar, gejolak hasrat ini semakin membuat tubuh ku tak terkendali, aku mendekatkan wajahku ke arah arga melahap bibir nya, mempersempit jarak di antara kami hingga tak ada ruang tersisa, jemari arga pun beralih.

Aku tahu aku tak berpengalaman dalam hal ini tapi setidak nya aku tak ingin membiarkan diriku nyaman seorang diri.

Manik mata legam itu menatap ku lekat, tak beralih dari wajahku. Aku menuruni tubuhnya dan menurunkan celana yang ia kenakan, dan menelanjangi tubuh arga dengan cepat.

Aku bereaksi dengan cepat, entahlah kurasa hormon ku meningkat.

Aku mengeluarkan batangan yang sudah tegang itu dari sangkarnya, menelan ludah ku sedikit takjud pada bentuk indah yang terpampang di depan mataku.

Aku melakukan seperti apa yang dilakukan arga padaku, membuatnya melenguh beberapa kali dan mendongak menikmati setiap permainan tangan ku.

Belum sempat aku membuatnya keluar, arga sudah kembali menjatuhkan tubuh ku, membuka lebar kedua kakiku, dan memaksa batangan tumpul yang sedang ereksi itu masuk ke dalam lubang prostat ku.

Membuat ku tersentak, meringis dan mencengkram kuat lengannya hingga meninggalkan kemerahan pada dua kulit lengan nya.

"Akhh--itu menyakitiku. Henthh-tikan"

Aku dapat merasakan nafas tersengal nya, jantung ku berdegub semakin kencang, mataku memerah menahan perih yang tertahan di ujung lubang belakang ku yang belum masuk seutuhnya.

"Shit! Ini akan membuat mu semakin sakit, sedikit rileks saja.. bagas"

Arga mengecup kening ku, memeluk tubuh ku.

Dan kembali menghantamkan milik nya padaku.

Aku kembali mencengkram lengan nya saat ia menghentakkan milik nya lebih kasar kepada ku, membuat batangan nya kini tertanam sempurna di dalam ku.

Kaki ku mengejang, aku menghimpit tubuh nya di antara kaki-kaki ku, arga tersenyum tipis pada ku dan berbisik.

"Ini sempurna.. kamu hanya milik ku"

Wajah ku memanas seketika, jantung ku berdegup lebih kencang, desiran darah pada tubuh ku seakan terasa.

Dan ......

_________________••________________

UNKNOWN

Hehehe, cerita nya aku gantungin? Sengaja.

Ini agar menumbuhkan respon kalian terhadap ceritaku, teruslah membaca tapi jangan lupa untuk memberi vote + comment agar ceritaku terus berjalan hingga ending.

'Cinta itu bukan sekedar rasa, cinta itu adalah pilihan hati. Jadi jagalah seseorang yang kau cintai, jangan pernah mencoba melukai karena hati yang terluka akan sulit terobati'

•_•

[text_hash] => dec36daa
)

Comments

What do you think?

0 reactions
Upvote
Funny
Love
Surprised
Angry
Sad


  • No comments yet.

Login





Loading...