Array
(
[text] =>
Tubuh ku terhentak-hentak mengikuti alur percintaan ini, nafas ku menderu lebih cepat saat arga menghentakan milik nya lebih dalam ke dinding prostat ku, membuat urat-urat ku menyusut, mengapit milik nya ketat.
Tubuh ku terguncang-guncang saat ia mengeluar-masukkan batangan milik nya di lubang ku.
Batangan tumpul yang semakin keras dan membesar di dalam ku, yang membuat ku semakin menegang merasakan milik nya membesar dan menyentuh titik utama ku.
Aku mendesah saat arga kembali menjilati leher putihnya dan mengusap sebuah tonjolan kecil di dadaku dengan jemari.
Author Pov's
"Ini geli akh..ssshhh..ssshhh…”
Bagas terus mengeluarkan desahan-desahan menggoda yang semakin membangkitkan gairah arga untuk terus menikmati setiap inci tubuhnya.
“Eughhhh….”
kini giliran Arga yang mendesah akibat remasan Bagas pada rambutnya.
Ia sudah tidak tahan lagi. Argakembali menciumi bibir merah bagas yang sudah sedikit membengkak, ciumannya turun ke leher dan berhenti di dada Bagas.
Arga memanjakan nipple kecil Bagas dengan lidahnya.
“Argghh--ja-jangan, jangan berhenti akhh…”
Bagas berteriak saat ciuman dan jilatan itu sampai pada perut nya yang membuat nya menggelinjang hebat akibat rasa geli yang ditimbulkan.
Ia betul-betul tidak bisa menahan dirinya sendiri saat seluruh bagian sensitive pada tubuhnya dimanjakan oleh Arga.Rasa geli dan nikmat seolah telah menggerogoti seluruh syarafnya.
Ia hanya bisa terbaring lemah dan meremas lembut rambut Arga yang seolah terus menggodanya untuk mencapai puncak kenikmatan dari semua ini.
“Lihat sekarang, semesum apa kamu sebenarnya bagas..”
sambil membelai pipi bagas, arga tersenyum mengejek seperti yang selalu ia lakukan selama ini.
Bagas memalingkan wajahnya yang sudah sangat memerah kemudian memeluk tubuh arga yang penuh keringat dan mulai mengusap perut ber-abs milik arga.
“Ini aku suka, sikap yang malu-malu tapi mau.. sangat lucu bagas”
Arga terkekeh pelan tanpa menghentikan aktifitas nya, ia terus bergerak untuk mencapai titik kenikmatan milik bagas.
Bagas bergerak berlawanan arah dengan tubuh Arga agar memberi sensasi lebih pada percintaan mereka sekarang.
Mereka terus bergelut dan merasakan nikmatnya percintaan mereka malam itu.
Arga terus menggerakkan tubuhnya yang membuat Bagas semakin menggelinjang menerima perlakuan itu.
"Aku mencintaimu-hhhahh"
Seiring dengan lenguhan Arga akhirnya mereka mencapai puncak dari segala kenikmatan yang mereka ciptakan malam ini.
Dengan cipratan lumpur cairan kental yang mereka hasilkan dari penis masing-masing.
Mereka kemudian terdiam merasakan kehangatan dari milik satu sama lain.
Melampiaskan cinta mereka yang selama ini tidak pernah terungkap sebelumnya.
Bagas menatap Arga yang menindih tubuhnya dengan senyuman manis.Begitu pula Arga, ia mencium bibir Bagas sekilas.
Bagas mulai meringkuk untuk tidur karena aktifitas yang melelahkan yang mereka lakukan.
"Aku mencintaimu untuk sekarang dan seterusnya"
Bagas terlelap seiring kalimatnya yang mulai tenggelam dalam buaian angin malam dan pelukan hangat arga yang semakin erat, enggan melepaskan seseorang yang paling berharga yang memberikan nya sebuah arti ketulusan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.
"Good night sweetheart."
Bintang-bintang berkerlap-kelip menatap dua tubuh pria yang saling memeluk dibalik sehelai selimut yang membiarkan dada bidang seorang di antara mereka terlihat, nafas yang beraraturan dan terlihat begitu tenang membuat bulan tersenyum melihat indahnya cinta yang terjalin di antara keduanya.
----------**----------
Pagi hari menjelang, matahari sudah bersiap untuk memancarkan sinarnya.
Bagas menggeliat perlahan merasakan tubuh nya yang kini terasa berat.
"Emmhh... apa yang? Astaga?!"
Bagas hampir saja melupakan satu hal, malam tadi adalah aktifitas seksual pertamanya dan kini orang yang menjamah dan menggauli nya masih mendengkur dengan teratur sambil memeluk tubuh nya.
Tubuh itu indah, tapi terdapat banyak sekali lebam dan memar di tubuhnya.
"Seharusnya malam tadi kamu ga perlu melakukan itu, kamu bahkan terluka tapi memaksa."
Bagas berceloteh dan menyibakkan selimutnya, dan mencoba bangkit walaupun sebenarnya tubuh belakang nya seperti remuk sekarang.
"Oh shit! Aku tahu ternyata ini yang membuat para gay bungkuk!"
Bagas merutuki dirinya sendiri, tapi secercah senyuman terpancar dari dirinya. Ia senang karena arga akhirnya kembali dan kini mereka sudah saling memiliki seutuhnya.
Bagas memasang boxernya dan berjalan perlahan ke dapur, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.35 AM
Dan itu artinya ia harus segera membersihkan dirinya dan menyiapkan sarapan.
Setelah mencuci tangan dan minum, bagas segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Matanya menatap pantulan dirinya di cermin, tubuhnya dipenuhi bercak-bercak merah yang di lukiskan oleh bibir Arga.
Bagas terkekeh kecil.
"Aku tidak tahu hasilnya sebanyak ini, tch dasar!"
Bagas menyalakan shower dan membiarkan air mengucur disetiap sudut tubuhnya, memberikan kesegaran pada tubuh yang lelah.
-------------**-------------
Arga terbangun karena sinar matahari memancar ke arah gorden yang terbuka tepat di samping ranjang, membuatnya menyipitkan matanya dan mengusapnya perlahan.
Ia berusaha bangkit tapi kaki dan tangan nya seakan mati rasa.
"Uhh! Apa yang terjadi?"
Arga menarik perlahan tubuhnya untuk bersandar di tumpuan ranjang.
Memijit pelipisnya, sakit kepala menyerangnya.
"Hmm? Sudah bangun?"
Bagas membuka pintu kamar perlahan dan berjalan mendekati arga yang sangat berantakan sekarang.
"Sial! Bau mu mengerikan tuan mesum"
Bagas bergerak maju untuk menarik tubuh arga mencoba membawa nya ke kamar mandi, tapi ia berhenti saat Arga diam saja tak bergeming.
Bagas menatap wajah pucat arga, dan segera memeriksa suhu tubuh arga.
"Sial, kamu sakit. Ini yang ku khawatirkan, tubuh penuh luka dan memar tapi tetap saja memaksakan hasrat, ini tidak lucu arga!"
Bagas menepuk-nepuk pipi arga, dan segera mengambilkan air dan baskom serta handuk untuk mengkompres arga.
"Tapi kamu hanya perhatian kalau aku sakit.."
Bagas menyipitkan matanya saat mendengar ungkapan arga.
"Baiklah, jadi aku tidak perhatian? Kalau aku tidak perhatian aku tidak akan membawa mu pulang bodoh.."
Bagas sedikit jengkel saat arga mengangkat alisnya dan mensudutkan bibirnya seakan kata-kata itu tak berarti.
"Iya, aku tahu. Aku minta maaf.. jangan merengut, dasar bocah!"
Arga menarik bagas yang sedang membersihkan luka-luka ditangannya ke pelukan nya, dan mencubit pipi bagas.
"Ouchh! Arga jangan mencubitku"
Arga hanya tertawa ringan di sela-sela tatapan tajam yang diberikan bagas padanya.
----------**--------
Baiklah, ini sudah part 20 dan aku akan menamatkan ini di part 21 atau 22.
Jadi vote dan comment untuk menjadi pembaca yang baik, kalian bukan stalker disini jadi jangan menjadi pengecut yang diam saja saat membaca.
Aku kecewa karena sangat banyak yang membaca cerita ini tapi hanya sedikit yang menghargai karyaku.
Ok, ini berlebihan tapi aku jujur pada sesi ini. Aku hanya ingin silent readers memberikan reaksinya bukan nya diam saja.
Ceritaku memang tidak bagus dan bermutu tapi setidaknya hargai ceritaku jika kalian membacanya, vote jika suka dan kritik di comment jika kalian tidak suka.
Aku bersedia menerima makian apa saja karena aku terbiasa di maki!
Oke dan terima kasih kepada kalian yang selalu mendukung cerita ini dengan vote dan komentar kalian :) you're great readers!
UNKNOWN
[text_hash] => 8d340c70
)
What do you think?