Array
(
[text] =>
Suasana kini begitu tenang karena sekarang semua sedang terfokus pada dosen yang sedang mengajar desain, ia menjelaskan detail bagaimana mengkomposisi kan warna yang benar, cara melakukan promo desain dan cara menemukan sasaran objek agar tidak salah kasus.
Terdengar aneh? Tidak, karena prinsip kerja para desain seperti detektif yang memerlukan kasus sebelum terbentuknya desain, karena sebuah kasus bukan untuk hal criminal saja, tapi juga berlaku pada perusahaan besar yang akan memperkejakan beberapa designer untuk membuat trademark dan lainnya yang berkenaan dengan hak cipta dan kompositing.
Di kursi pojok bagas masih tampak sibuk dengan notebook nya, membuat beberapa contoh logo untuk di presentasikan, ia paling bersemangat dengan hal seperti ini karena ia memang mencintai materi ini, kenapa? Karena materi ini menandakan keindahan yang tercipta dari bentuk dan warna, bagas sangat menyukai hal yang berbau indah, karena ia pengagum nomor satu keindahan. Ia selalu beranggapan dirinya mungkin akan kosong tanpa keindahan, walaupun ia belum mengetahui indah yang sebenarnya tapi ia mencintai indah yang diciptakan dengan bentuk bervariasi, warna yang begitu tenang saat dipandang mata, walau bukan asli, karena itu hanya sekedar buatan benda mekanis, yaitu program.
Bagas masih bertaut pada desain logonya, ia mengotak-atik aplikasi Ai nya agar dapat menciptakan logo yang sesuai dengan ide pikiran nya.
Lain hal nya dengan seorang anak lagi, arga yang kini menatap jenuh layar notebook nya yang hanya menggambarkan coretan tanpa arti yang mungkin lebih menggambarkan pikirannya saat ini.
Dosen itu kini meninggalkan ruangan, menyisakan catatan kecil di depan whiteboard yang bertuliskan sesuatu mengenai tugas. Suasana yang tadinya hening kembali ricuh, satu persatu meninggalkan ruangan keluar untuk ke toilet, kantin maupun taman kampus untuk bersenang-senang kecuali beberapa siswa termasuk bagas, radit, rehan, dan arga.
“Ga! Ke toilet yuk” rehan mentoel bahu arga yang duduk di depan nya, arga berbalik “kamu mau ke toilet, ke toilet sendiri sana!” jawab arga sedikit membentak.
“wuih! Sensi banget kamu ga, lagi pms ya?” canda rehan yang disambut gelak tawa oleh radit, radit mengeluarkan kotak rokok dari kantung sakunya dan menyalakannya, membuat asap berkepul disekitar mereka.
“Dit, kamu bikin ruangan ini bau tau! Sana gih di toilet aja!” rehan merasa sedikit terganggu oleh ulah temannya, “ayok lah! Sini ga asyik..” radit menarik rehan keluar, mencibir kea rah arga yang sejak tadi moody. Arga menjatuhkan kepalanya di meja, membuat suara jedukkan terdengar. Sejak duduk dipojok bagas diam-diam memperhatikan tingkah arga yang Nampak tidak nyaman.
“Eh bagas? Ga laper? Ke kantin yuk?” ajak seorang yang duduk tak jauh dari bagas, bagas sedikit kaget. “Eh? Kayaknya nanti aja deh, maaf –“ bagas tidak menyambung kalimatnya ia mengernyitkan sedikit alisnya, mengingat siapa pria yang berbicara padanya “aku iwan” jawab pria itu sambil tersenyum, bagas mengangguk mengerti. “yaudah, aku duluan..” pria yang bernama iwan tadi pun meninggalkan bagas sendiri di kursi pojoknya, bersama arga yang kini duduk dengan posisi kepala menyentuh meja di kursi nya yang berada tak jauh dari bagas, hanya saja kursi itu berada sedikit di depan walaupun terdapat dua kursi lain di depannya.
3 orang siswi masuk ke dalam lab, terpekik sambil melonjak-lonjak kegirangan. Membuat bagas sedikit terusik, ia melongak kea rah pintu melihat 3 gadis centil sedang berusaha mendekati meja arga sambil menahan pekikan girang mereka. “Argaaa!! Kamu ga ke kantin?” Tanya seorang siswi dengan rok pendek dan rambut yang digulung membuat leher mulusnya terlihat dengan jelas, arga tidak menjawab ia masih menundukkan kepalanya, mungkin sedang tidur pikir bagas. “argaaaa~~” panggil seorang siswi lagi yang rambutnya tergerai, baju kaos pink dan celana jeans yang sangat pas membentuk kaki kecilnya, arga masih tidak menjawab, ia hanya sedikit melongak, para siswi itu mulai tersenyum-senyum, menatap arga denga tatapan ANEH, CENTIL khas mereka, yang membuat bagas sedikit menutup mulutnya menahan tawa.
“arga, kamu kok ga jawab? Kamu punya waktu jalan ga? Bareng kita-kita?” Tanya seorang gadis lagi yang kini terlihat lebih modis disbanding kedua temannya, “ajak radit ama rehan juga deh..” tambah gadis yang pertama, sambil berusaha menyentuh lengan arga. Arga menatap mereka, kini ia berdiri dari posisi duduknya, menatap satu persatu gadis itu dan “KALIAN KELUAR! AKU SEDANG TIDAK INGIN DIGANGGU!” arga berteriak ke depan gadis-gadis itu, membuat mereka melongo menatap tak percaya dan berlari ketakutan keluar lab.
Seketika itu melihat ekspresi para gadis yang kabur dari arga itu, membuat bagas yang dari tadi menahan tawanya tidak dapat menahan tawanya ia tertawa terbahak-bahak mengingat muka aneh dari 3 gadis cantik tapi centil itu. Arga menatap kea rah gelak tawa di belakangnya, membuat bagas menutup mulutnya, dan berusaha tak peduli ia segera mengambil komik nya dan berpura-pura membaca. Tapi Nampak nya arga sedang marah, ia beranjak dari duduknya berjalan mendekati kursi bagas, yang menutup wajahnya berpura-pura membaca komik itu, arga menarik kasar komik yang tengah dibaca bagas dan melempar komik itu ke lantai.
Bagas menatap tak percaya, ia berdiri dari kursinya menghadapi arga. “Apa-apaan kamu?” bagas bertanya dengan wajah datarnya, melepas kacamata bacanya dan menatap arga yang kini berdiri de depannya dengan nafas yang memburu, “Kamu yang apa-apaan? Enak ya ngetawain orang?!!” bagas mengernyit heran, ia tampak sedikit berpikir “Ngetawain? Aku ngetawain cewe-cewe yang kamu usir itu, kok kamu yang sewot?” jawab bagas menantang, ia meninggikan suaranya.
Arga terdiam, mungkin bagas benar ia tidak menertawakan arga, tapi tetap saja arga merasa rendah ia merasa bagas menertawakannya, ia tidak suka mendengar gelak tawa yang renyah yang terarah kepadanya, ia merasa rendah saat itu juga. Tapi bagas tidak menertawakan nya kan? Lalu kenapa ia marah, mungkin ia terbawa emosi membuat nya tidak bisa membedakan tawa mengejek ataupun tawa canda.
Wajahnya merah padam, ia menahan malunya, konyol! Ia sudah melakukan hal konyol, di depan orang yang belum ia kenal.
“m-maaf..” arga menjauh, berjalan lemah. Tapi sebuah tangan menahan langkahnya, “kamu belum jelasin kenapa kamu marah?” bagas menggenggam lengan kekar arga, “….” Arga hanya diam, ia mengencangkan lengannya melepaskan tangannya dan berlalu, mengambil tas nya dan keluar dari lab itu.
“Dasar! Pria aneh!” bagas berjalan sambil bergumam, mencari komik yang dilempar oleh arga tadi. Memungutnya dan kembali ke kursinya, duduk dengan tenang menunggu dosen yang akan mengajar berikutnya, ia memasang headsetnya agar tidak bosan.
---------------*---------------
BAGAS POV’S
Aku memandang keluar jendela lab ku, yang menampak kan pemandangan lapangan parkir dan taman sekolah secara langsung. Mata ku menelusuri setiap arah, melihat beberapa siswa yang berlalu lalang, para siswi yang duduk di tepian bawah pohon rindang hanya untuk sekedar duduk-duduk maupun bernaung, sambil memainkan ponsel dan ada juga yang tampak bermesraan dengan pacar nya. Membuat bagas bergidik ngeri, ia sangat terganggu dengan pandangan seperti itu, mata nya menjauh melihat kearah lainnya, lapangan parkir, mata nya menangkap seseorang yang sedang berkutik dengan helm nya dan menyalakan mesin motornya keluar dari gerbang dengan kecepatan yang seharusnya tidak digunakan di kampus.
‘ada apa dengan dia sih? Aneh sekali..’aku berpikir menatap kearah perginya arga dengan motornya.
'Ah sudahlah, aku tidak perlu tahu!' aku berusaha menepis pikirannya agar tidak terlalu mencampuri, tapi perasaan ingin tahu ku saat ini terlalu besar, hingga tanpa pikir panjang berlari keluar kelas dan turun ke bawah, dan berlari ke lapangan parkir, keluar gerbang dan dengan cepat aku menghentikan seorang tukang ojek yang lewat, dengan cara menubruk nya.
"aduh! ini ada apa nak?" bapak-bapak itu keheranan melihat ku yang berlari tak jelas, hingga menubruk motor bapak itu.
"pakk! s-saya minjam mo-h-tor bapak dulu ya?" dengan nafas terengah-engah aku berusaha menstabilkan nafas, "e-eh? minjam buat apa nak?" bapak itu tampak semakin heran, "gausah banyak tanya pak, inih!" aku segera mengambil alih setir dan menyodorkan uang untuk bapak itu dan tanpa mendapat ijin membawa kabur motor bapak itu sembari berteriak "pak!! nanti saya balik! tunggu aja!".
Aku terus melajukan kecepatan motorku, entah kenapa pikiran ku semakin buruk tentang arga, aku juga semakin ingin tahu apa yang membuat nya seperti ini, aku tidak memperhatikan jalan lagi, aku hanya terus melajukan motor ini, dan tak jauh di depan ku dapat ku lihat sebuah motor gede yang dipakai oleh arga tadi, aku sedikit melihat ke arah kaca spion nya, dan benar saja itu arga, wajahnya sangat menampakkan kekesalan, entah apa yang ia pikirkan.
tapi yang kulakukan saat ini membuntutinya, ia makin melajukan motornya kencang hingga terdapat sebuah tikungan, ia membelokkan arah, aku juga masih terus membuntutinya.
----------------------------**-----------------------------
SEE WHAT'S NEXT?
KEEP SUPPORT, VOTE & COMMENT! THANKS, Maaf karena update nya agak kacau, aku akan menulis sebisa ku.
UNKNOWN
[text_hash] => 791d28ef
)
What do you think?