Array
(
[text] =>
BAGAS POV'S
Aku masih terus mengikutinya yang sekarang sedang menuju ke jalan kosong, tepat disamping jalan panjang itu terdapat tebing curam,
'astaga! apa dia gila? dengan kecepatan seperti itu dia cari mati!!' aku terhenyak saat ia menambah kecepatannya, aku masih terus membuntutinya dengan kecepatan standar, sekitar 10 menit ia melaju di jalan tebing itu hingga kemudian ia berhenti di atas tanjakan, ku pikir jalan itu akan menuju bukit dan benar saja tak jauh dari situ terdapat bukit yang tidak terlalu tinggi tapi begitu asri, terdapat sebuah rumah, ya kupikir itu rumah karena tidak seluas villa. Aku masih diam ditempat ku hingga ku lihat arga memasuki tempat itu, ia tampak prustasi.
Aku masih diam ditempat ku tidak bergerak dari tempatku sama sekali, aku menepikan motor yang ku pakai ke pinggir agar tidak terlihat oleh orang lain, sudah sekitar 30 menit aku menunggu tapi arga tidak keluar juga, 'apa yang dilakukan nya didalam sana?' aku berpikir sejenak untuk masuk atau tetap menunggu diluar, 'aku masuk saja!' rasa ingin tahu ku kembali menguasai hingga tanpa aba-aba kaki ku berlari menuju tempat itu, membuka pintu nya perlahan dan masuk.
Semua yang ku lihat didalam rumah itu tampak kosong, tidak ada kehidupan sama sekali, semua perabot ditutup kain putih, aku berjalan mengendap-endap, melihat-lihat dan masuk lebih dalam.
"Uhuk-uhuk! akh-huk!" aku sedikit terkejut, memalingkan wajah ku memutar perlahan tubuh ku mencari asal suara. "uhuk-akh!" suara batuk yang kering itu semakin jelas ku dengar, aku memicingkan mata mencoba melihat lebih jelas ke depan, mata ku tertuju pada sebuah celah pintu yang sedikit terbuka di kamar yang berada disamping tangga, dan aku melangkahkan kakiku dengan mantap menuju kamar itu, menengok ke celah kamar itu, mengintip ke dalam, asap rokok menyeruak ke luar membuat aku harus menutup mulut dan hidung ku, 'apa yang dilakukannya di dalam sih?'
"Uhuk! akh-huk!" semakin aku menoleh suara batuk itu terdengar sangat jelas, aku meraih gagang pintu membuka nya perlahan agar tidak meninggalkan bunyi yang dapat mengusik orang yang berada di dalam kamar itu, aku sudah masuk di dalam kamar itu sekarang, mata ku terbelalak kaget, apa yang kulihat ini? aku melihat begitu banyak botol minuman berjejer, berserakan, dan obat-obatan bertebaran, 'Gila! apa dia tidak berpikir kritis? ini membahayakan kesehatan!' aku menatap geram, ke arah belakang ranjang seorang pria duduk menyembulkan asap rokok dari mulutnya dan bersandar pada pinggiran ranjang, penampilan nya sangat berantakan, tak jauh dari tempat nya terdapat ransel hitam, itu ransel yang dipakai arga saat dikampus tadi, aku mendekat memberanikan diriku untuk bergumam "Ga?"
Ia sedikit kaget, diam tak bergerak di tempatnya dan perlahan menoleh menatap ku, mata nya menatap tak suka ke arah ku, ia berusaha bangkit dari tempat nya, saat ia ingin bangkit dan melayangkan tinju nya ke wajah ku ia terhuyung dan jatuh, aku bergerak cepat membantu nya berdiri, ia meronta agar dilepaskan tapi aku menyeret tubuhnya dan membaringkannya di atas ranjang nya, "Kamu bodoh ga? Apa yang kamu lakukan disini hah?" aku menatap keadaan nya yang sangat kacau sekarang, "diam kamu! kamu bukan siapa-siapa!" tanpa ku sadari ia bangkit dari posisi tidurnya dan memukul wajahku, sangat keras hingga saat aku memegang bekas pukulan itu terasa berdenyut, aku menatap nya tak percaya, 'bahkan setelah dibantu dia menghajar ku?'
Arga sedikit terkekeh karena berhasil memukul ku, ia mengambil rokok dari kantung celananya dan menyulutkan api kemudian menghisapnya, matanya terlihat nanar tapi masih saja melakukan hal buruk, aku tidak bisa diam sekarang. Aku meraihkan tangan ku ke rokoknya, merampasnya dengan cepat dan mematikan rokoknya di telapak tanganku, membuat bekas terbakar pada telapak tangan ku, arga menatap takut, setelah mematikan rokoknya di telapak tangan ku aku menginjak-injak rokok itu.
"BERHENTI BERSIKAP BODOH!" aku meneriaki nya marah, ia diam tak bergerak menundukkan wajahnya, dan tanpa suara air matanya jatuh, arga menangis? tapi kenapa? "Arga? aku ga bermaksud --" aku menyadari sikap kasar ku tadi, aku mendekatinya dan duduk disamping nya, ia beringsut menjauh dariku, meringis dan terisak, "ga maaf aku ga bermaksud-d" aku bingung sekarang gimana cara menjelaskan yang sebenarnya aku benar-benar kesal tadi.
Aku menatap tubuhnya yang bergetar karena menangis, ia menggeleng perlahan "k-kamu ga salah.." suaranya tenggelam, arga terdiam dia berhenti menangis, "j-jangan bilang ini ke siapapun.." katanya lirih. Aku tersenyum, ingin tertawa, tapi tidak, aku tidak mungkin menertawakan nya. "Aku tidak." jawab ku, arga kemudian diam.
"tapi ga, sebenarnya kamu kenapa?" aku bersuara memberanikan dirinya bertanya, dia diam saja, "kalau ga mau cerita, gapapa." aku menambahkan karena aku tidak dapat ciri apakah arga mau menjawab, tapi kemudian dia menatap ku mengulurkan tangan nya dan mengambil tangan ku, dan melihat telapak tangan ku yang terbakar karena tersulut saat mematikan rokoknya tadi
"ini sakit banget ya?" Aku tertegun, melepaskan tangan ku dari genggaman nya, "ini ga seberapa, dibanding keselamatan nyawa kamu." aku berkata dengan nada yang sedikit ku tekan agar tidak terkesan perhatian, tapi yang ku katakan adalah sebenarnya, karena nyawa nya akan terancam kalau dia terus menghisap rokok dan memakan obat-obatan seperti yang ia lakukan.
"Aku punya alasan kenapa aku seperti ini.." aku menatap nya lekat, dapat ku lihat wajah pucat dan bibir yang bergetar itu, keadaan nya sangat tidak sehat, "ada ataupun tidak, kamu harus mikir yang mana yang baik." Aku merebahkan tubuhku, dan menatap langit-langit.
"Tapi ini membuat ku tenang, aku sudah berusaha agar terlihat baik-baik saja, tapi tanpa begini aku tidak akan terlihat baik." ia bergumam menunduk, menatap lantai keramik yang dingin di kamarnya.
"Kenapa tidak habiskan waktu bersama orang terdekatmu, daripada seperti ini?" mata ku berkeliling menatap setiap sudut kamar, "aku tidak bisa." aku kembali duduk tegap menatap arga yang berada disampingku, "kenapa tidak?" tanyaku dengan sedikit keras.
"karena--" arga menggantungkan jawaban nya, BLAKK! belum sempat arga menyambung jawaban nya, terdapat suara menjeblak dari arah pintu depan dan terdengar banyak hentakan kaki dari arah depan, arga berdiri aku mengikutinya, ia mendorongku menjauh, dan membuka jendela kamar nya dengan tergesa-gesa, "cepat pergi! keluar, jangan masuk saat terjadi apa-apa!" mtanya tampak sangat nanar, ia menarik ku dan mendorongku menuju jendela, aku pun dengan cepat tanpa bertanya melompat keluar jendela, arga segera menutup kembali jendelanya dan menjauh mengambil tas nya, dan tepat saat itu pintu kamar nya dibuka dengan paksa, hingga terdengar BLAKK! arga tersentak kaget, hingga tas nya terhempas ke bawah belum sempat ia menjauh dua orang berbadan besar menarik tangan nya dan meringkus nya layaknya serang penjahat, dan seorang pria baya masuk, menendang kaki arga, aku tersentak kaget, aku bersembunyi dibalik jendela yang sedikit tertutup tirai, pria baya itu menarik rambut arga dan menampar pipinya kencang hingga arga terbatuk dan mengeluarkan darah, aku menutup mataku tak percaya, 'siapa pria itu sebenarnya?' apa mungkin aku harus keluar dan menolong arga, tapi aku hanya sendiri sekarang, tidak, aku tidak boleh gegabah, aku berpikir keras hingga aku teringat ucapan arga tadi, aku melangkahkan kaki ku sedikit mundur dan berusaha mengintip kembali.
Sekarang aku melihat arga di tarik paksa oleh pria baya itu, "Ayah hentik-kan!" aku terdiam, arga memanggil pria baya itu ayah? aku menggeeng keras, 'apa mungkin itu ayahnya? tapi kenapa menyiksa arga seperti itu?'
Pria baya itu kini diam, dan menatap remeh kearah arga, kini aku tahu darimana arga memiliki tatapan melecehkan orang lain itu, ternyata dari ayahnya sendiri. Tapi tak berlaku lama pria itu diam kini ia kembali memukul dan menendang arga, "KAU ANAK TAK BERGUNA!!" teriak nya membuat ku harus menutup telinga ku karena takut, "KAU BERADA DISINI, UNTUK APA KAMU KU KULIAH KAN HAH? UNTUK MENJADI TAMBAH TAK BERGUNA?!!" ayah arga kembali berteriak meneriaki nya dan memukul nya, arga hanya diam saja, meringis menahan sakit di sekujur tubuh nya.
Dan tak lama ayahnya memerintahkan pria-pria berbadan besar itu membawa arga, arga mengikuti mereka pasrah dengan langkah yang terseret karena di tarik paksa.
Aku menunduk, dan memegang perutku, aku melihat penyiksaan di depan mataku sendiri. Perutku terasa mual dan ingin muntah, aku mencoba memuntahkan isi perutku tapi tidak keluar apapun.
Karena merasa sudah aman, aku berlari menuju kendaraan pinjaman yang ku parkirkan di samping pohon, dan menaiki nya dengan cepat melaju menuju kampus ku untuk mengembalikan motor ini.
*skip
aku sudak berada di depan gerbang kampus ku, aku melihat tukang ojek tadi siang masih menunggu sambil memakan bakso, aku memarkirkan motornya dan mendatangi bapak itu. "pak! ini kuncinya, makasih ya pak." seraya menaruh kunci dan uang 50ribu sebagai tambahan di depan bapak itu, aku kembali berlari menuju ke apartment.
BAGAS POV'S END
Kini bagas sudah masuk ke dalam apartment nya, melepaskan sepatu dan kaus kaki nya, dan meletakkan nya ditempatnya. Ia beranjak ke dapur, membasuh tangannya di wastafel dan perlahan membuka kulkas nya untuk mengambil air dingin. dan meneguk air itu hingga habis.
Bagas membuka pintu kamarnya, menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya, ia menghela nafas panjang memutar kembali memori kejadian yang terjadi hari ini. Bagas membalik badan nya, menatap jam weker nya yang berdetik setiap detiknya. "apa yang terjadi pada arga?" bagas sedikit bergumam.
-----------------------**---------------------------
See what's happening with arga?
See what's bagas can do to help arga? OK! Keep wait, and support guys
Maaf jika update sedikit terlambat, terima kasih karena sudah menunggu. komen untuk memberi kritik dan masukan apa saja..
UNKNOWN
[text_hash] => 90b81fce
)
What do you think?