Array
(
[text] =>
Pagi itu terlihat sangat cerah tapi tidak dengan suasana hati bagas yang kini sedang bergemuruh, ia bingung memikirkan sesuatu yang tidak pasti, bagas mengacak-acak rambutnya, menjauhkan selimut yang menutupi dada bidang nya yang segera terekspos saat selimut itu dijauhkan hingga menutupi boxer nya saja, bagas menatap cermin besar yang berada di samping ranjang nya, menatap wajah tampan yang kini menampakkan muka semrawut bangun pagi miliknya.
Bagas menarik laci nakas nya, mengambil ponselnya dan menatap layar kosong itu, ia mengusap layar dan membuka kode pada lock ponselnya, mendengus karena tidak ada pemberitahuan apa-apa yang penting ataupun dapat menjadi moodbuster nya.
------------------------------**----------------------------
NEXT SIDE
ARGA POV’S
Ini tengah malam, aku dimana? Kenapa aku berada di jalan yang gelap? Aku kebingungan, aku takut apa yang akan terjadi lagi setelah ini? Kaki ku bergetar, ada yang tengah berlari-lari kearah ku, aku segera berlari dengan cepat berlari, keringat menuruni pelipisku, tubuh ku bergetar hebat menggigil aku tidak tahu aku dimana, apa yang terjadi tiba-tiba sebuah bayangan berada di depan ku mengulurkan tangannya, aku pikir itu adalah bayangan ku aku memberikan tangan ku padanya ia menggenggam tangan ku dengan hangat dan berbisik,
“Ceritakan lah pada ku, semuanya..” aku terhenyak, suara ini? Ini suara bagas, tapi kenapa? Kenapa dia menolongku? Ia memeluk ku dengan erat, “jangan melukai dirimu, jangan pendam itu sendiri.” Hangat ini yang kurasakan, kehangatan yang menjalar ke sekujur tubuh ku saat aku melepaskan pelukannya dan mencoba menyentuh wajahnya
“Bagas!” mataku menatap sekeliling ruangan, aku berada di kamar ku? Lalu tadi apa? Aku memegang lengan ku yang dingin karena AC kamar, aku menepuk pipiku sedikit kasar. “Aku bermimpi? Tapi kenapa seperti nyata? ARGHHH! Apa aku mulai gila?!” aku mengacak-acak rambut ku frustasi.
Kepala ku mendadak sakit, aku kembali merebahkan tubuh ku, “Bodoh! Ada apa dengan diriku?” aku bergumam menatap langit-langit ruangan, aku tidak mungkin segila ini memimpikan bagas? Ahaha jangan membuat ku tertawa, kenapa dia? Bukan orang-orang yang ku sayang? Tapi siapa yang ku sayangi, oh tidak ada. Aku mendengus, dan mencoba memejamkan mataku lagi, karena sakit kepalaku semakin merambat, dan bagian tubuh ku juga merasa begitu kelu.
--------------------------**--------------------------
BACK SIDE
Bagas sudah menyelesaikan mandinya, dan memakai kaos serta boxer nya, dan keluar kamarnya menuju dapur untuk membuat sarapan. Membuka kulkas untuk mengambil 2 butir telur dan beberapa potong sosis untuk digoreng.
Bagas beralih menuju blender untuk membuat jus wortel segar, sebagai minuman rutinitasnya, setelah semua siap bagas membawa nampan penuh sarapan itu ke ruang keluarga, walaupun sebenarnya yang tinggal di apartment hanya dirinya.
Bagas menekan tombol pada remote nya dan menonton televise yang menayangkan kartun pada channel tv nya sekarang, bagas menonton acara anak-anak itu sambil menyeruput jus wortel nya, dan memotong telur nya dengan pisau dan garpu, menyendokkan nya ke mulutya.
Bagas uring-uringan di sofa panjangnya setelah menghabiskan semua sarapannya, ia menatap layar tv yang kini sudah berpindah ketayangan berita dan menampilkan berita tentang kdrt, bagas tertegun menatap korban yang kini tak berdaya terkulai di RS, dengan badan penuh luka dan memar, bagas mematikan tv nya ia segera beranjak untuk mengganti pakaian nya, karena jam sudah menunjukkan pukul 11, ia ada jadwal kampus setengah jam lagi.
------------------------**-----------------------
BAGAS POV’S
Aku sudah berada di kampus ku sekarang, menuju aula dan melihat banyak sekali orang yang bergerombol di depan madding kampus, aku melintasi mereka tanpa ingin tahu apa yang dilihat di madding itu. Aku berjalan terus menuju kantin, dan mengambil kursi pojok untuk membaca komik ku menunggu waktu masuk. Aku melihat banyak siswa-siswa berkumpul dan berbincang-bincang, mata ku menangkap dua sosok pria yang kini menggoda beberapa siswi yang sedang asyik makan. Radit dan rehan, tapi tidak ada arga disana, aku mengalihkan pandangan ku kemabali pada komik ku, ‘mungkin arga belum datang’ pikir ku.
Aku melihat ke jam tangan ku, ini sudah jam masuk ku, aku beranjak mengambil ransel ku dan membawa komik ku beralih menuju ruangan yang akan ku pakai, dan pelajaran nya adalah Teknik photography, aku menghela nafas panjang untuk beberapa saat sebelum memasuki ruangan ku.
Siswa-siswi sudah menempati kursi mereka masing-masing, aku masuk dan duduk dikursi yang selalu terletak disamping jendela.
Dosen pengajar sudah masuk dan memperkenalkan dirinya setelah itu, menyuruh kami untuk absen dan ia segera mengawali pelajaran nya dengan berbagai penjelasan dan materi, ia juga sedikit mempratikkan, aku sedikit jenuh entah kenapa, arga tidak masuk padahal namanya ada, tapi dia tidak masuk ke ruangan ini, aku menampar pipiku ‘kenapa aku khawatir pada pria aneh itu!’ aku menundukkan kepalaku.
“…sebaiknya aktifkan fitur high iso noise reduction di kamera untuk mengurangi noise, dan jika memakai panjang vocal xmm maka sebaiknya shutter speed di atas 1/x detik..” dosen itu masih saja memberikan penjelasan panjang nya tanpa memperhatikan seisi ruangan yang kini tampak jenuh dan mengantuk, walaupun beberapa sangat terlihat antusias. Aku melepaskan kacamata ku, dan menaruh nya di tempatnya, kalian tidak tahu? Aku pria berkacamata, walaupun aku jarang sekali memakai nya, aku hanya memakai kacamata ku disaat tertentu.
Dan saat ini aku tengah belajar dan menatap proyektor, dengan rentetan tulisan yang membuat mata ku silau, aku menggunakan kacamata hanya untuk mengurangi cahaya yang terlalu banyak, ya walaupun mata ku sebenarnya sudah sangat sehat.
Aku melihat jam tangan ku, ini sudah mendekati jam makan siang, dan tepat saat itu, bunyi pertanda istirahat di bunyikan. Dan dosen itu segera keluar, aku merenggangkan otot-otot lengan ku. Ah! Ini membuat tubuh ku sedikit rileks, aku berdiri mengambil ransel ku dan keluar ruangan menuju loker ku untuk mengambil beberapa buku yang nanti akan aku pakai di jam kedua, dan setelah itu aku bisa bersantai, aku ke toilet pria dan membasuh wajah ku.
“Arga sedang sakit ku dengar, haha” dua orang tengah bercakap-cakap di toilet, “dia juga bisa sakit ternyata, darimana kamu dengar berita itu?” Tanya seorang yang lain sedikit terkekeh, “ya dari siapa lagi, teman dekat arga, ya dua curut itu” ungkap pria satu nya yang kini berusaha mengancingkan resleting celananya, “haha jadi untuk saat ini ga ada, yang jadi saingan kita..” dan mereka keluar.
Aku terdiam di depan wastafel, ‘arga sakit?’ aku menatap pantulan diriku, tapi bukan wajahku yang kulihat, melainkan wajah arga yang terlihat pucat dengan bibir yang sedikit bergetar, matanya menatap ku sayu, dengan memar di sudut bibir nya, aku menyentuh bayangan itu dan bayangan itu lenyap seketika.
Aku tersentak dan segera berlari keluar mencari radit dan rehan, aku menemukan mereka di ruang musik, terlihat sedang memainkan drum dan bass, aku masuk ke dalam, mereka menatap ku heran, aku menap mereka dan dengan mantab mengatakan sesuatu yang ingin ku tanyakan “Arga dimana?” dengan nada sedikit tertekan karena nafas ku tidak beraturan, mereka saling berpandangan untuk beberapa saat “Kenapa cari arga? Mau cari gara-gara?” tantang pria yang ku kenali sebagai radit, aku menatap mereka dengan kesal, “aku mau ketemu, ada urusan!” jawab ku datar, radit mendekati ku “urusan? Kurasa arga ga punya urusan sama kamu..” ia mendorong ku sedikit kebelakang, aku menjauhkan tangan nya dari tubuhku, meremas tangan nya, mungkin jika bisa berubah mataku sudah menyala saat ini, rehan turun dari tempat drum nya, dan mendekati kami, “Oke, aku rasa aku bisa kasih tahu alamat arga sama kamu.” Aku segera melepaskan genggaman ku pada lengan radit, dan menatap rehan mencoba mempercayai kata-katanya “dia lagi sakit, tapi dia ga mau kami jenguk. Jadi kalo kamu ada urusan sama dia, kamu langsung kerumahnya aja..” ungkap rehan lagi, “tapi kami ga jamin, kamu dibolehin masuk sama arga.” Sambung radit menatap ku dengan tatapan seakan tak percaya aku ada urusan dengan arga.
Setelah mencatat alamat yang diberikan pada ponsel ku, juga meminta nomor telpon arga aku berlalu keluar dari kampus ku, berlari menuju alamat yang diberikan dan menaiki taxi untuk menempuh jarak yang lumayan jauh dari kampus ku itu menuju rumah arga.
Aku tidak tahu apa yang ku pikirkan saat ini, tapi yang ada hanyalah 'bagaimana caranya melepaskan arga dari kesengsaraan yang kini dihadapi nya..'
------------------------**------------------------
Teruslah membaca agar bagas bisa menjadi pelindung dan tempat berkeluh kesah arga, ahaha maaf untuk part yang sedikit ini, akan ku usahakan update berikutnya lebih panjang. Kalian menginginkan mereka seperti di media ? Tentu saja itu akan terjadi jika kalian rajin voment xD
KEEP WAIT, READ VOTE+COMMENT!
UNKNOWN
[text_hash] => f1d3607b
)
What do you think?