Chapter 12: Day 4 : I don't think this is love

Array
(
[text] =>

Maaf sudah membuat kalian menunggu haha, hari ini hari yang cukup menyebalkan.

Selamat tahun baru 2015! Para readers yang setia dan para voters yang selalu mendukung ku.

OK LET’S READ!

-------------------**-------------------

Bagas berlari memasuki kampus nya karena sudah terlambat setengah jam untuk menghadiri jadwal nya.

Bagaimana bagas bisa berada di kampus saat ini? Padahal tadi malam ia tertidur ditempat arga, ya itulah bagas sedikit ajaib kurasa, atau athour nya saja yang tidak mau membuang banyak paragraph untuk menceritakan nya, haha baik kalian akan tahu bagaimana bagas bisa pulang dan sekarang berlari-lari menyusuri koridor kampus.

Flashback

Bagas terbangun dari tidur nyenyak nya saat jam sudah menunjuk kan pukul 08.35 pagi, bagas menguap lebar, dan merenggangkan otot-otot nya agar tubuhnya rileks, bagas berdiri dan berjalan pelan ke kamar mandi, ia masih belum menyadari kalau dia masih berada di kamar arga, saat bagas membuka pintu kamar mandi, mungkin karena mata nya masih mengantuk dia jadi tidak terlalu menyadari kamar ini berbeda dari kamar nya, bagas perlahan masuk ke kamar mandi dan saat ia akan ke bath up “AAAAAAAA!! Kampret apaan itu?!!” bagas melonjak-lonjak kaget seperti orang gila, melihat pemandangan yang padahal bisa dibilang menguntungkan, tapi tidak bagi bagas.

“Bagas! Diam! Kamu bikin rebut pagi-pagi tahu gak?!” seorang pria berdiri dibawah shower, tanpa sehelai pakaian punya dia arga, arga mengerut tak mengerti pada bagas yang masih saja melonjak-lonjak ditempat nya, “a-anu kamu pakai baju dong!” bagas menutup wajah nya dengan sebelah tangan nya.

“Eh? Aku kan lagi mandi, ngapain pakai baju?” arga mengusap-ngusap shampoo pada rambut nya, dan melirik bagas sembari memasang wajah mesum nya. “GAHHH!” bagas berlari keluar kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi itu dengan kencang. “hahaha, lagian ngapain main masuk sembarangan!” gelak tawa arga menggema dari dalam.

Bagas menutup telinga nya, dan membuat wajah sebal “dasar gila!” seru bagas, bagas berjalan menuju ranjang arga, mengambil tas nya yang berada di dekat nakas. Dan berjalan keluar kamar, ‘pulang aja deh, daripada gila disini’ bagas segera lari menuju tangga, dan turun ke bawah, wanita paruh baya yang kemarin menyapa nya heran melihat bagas yang nampak terbirit-birit seperti maling itu, “ada apa den?” Tanya wanita itu, bagas menggeleng “aku pulang, tolong bilangin ke arga ya bi..” jawab bagas segera berjalan ke pintu depan, wanita paruh baya itu hanya mengangguk dan bergegas membukakan pintu untuk bagas.

Dan begitulah bagas bisa pulang ke rumah nya dengan mata yang lecet karena ternodai pemandangan tubuh arga.

Flashback end

Bagas masuk ke ruangan belajar nya, yang kini sudah diisi oleh dosen. “permisi, maaf saya terlambat.” Bagas berdiri dengan canggung di depan pintu, dosen itu menatap bagas, dan mempersilahkan bagas masuk. Bagas masuk ke dalam ruangan itu, dan tanpa disadari mata yang melecehkan nya seperti biasa menatap nya dingin, bagas sedikit bergidik dan menatap heran ‘hah? Ga salah? Itu anak udah ada dikelas..’ bagas pun duduk di kursi nya dengan tenang.

ARGA POV’S

Aku menatap bagas yang kini sudah duduk di kursinya, dia membuat wajah yang menyebalkan, sepertinya bagas sedang moody. Aku membalikkan badan ku kembali ke depan dan memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung.

“rentang jarak yang dimiliki subjek foto untuk menghasilkan variasi ketajaman/focus pada foto yang dihasilkan, atau bisa di sebut DOF…” dosen itu menjelaskan materi komposisi digital, aku menatap layar proyektor yang menayangkan beberapa contoh gambar yang dijelaskan. Entah kenapa suasana hati ku hari ini sedang cerah, jadi aku tidak berkeinginan lari dari pelajaran, seperti yang biasa ku lakukan.

Aku sedikit menengok ke belakang, menatap bagas yang kini sibuk mencatat pada buku nya, manik mata indahnya itu dibingkai sebuah kacamata membuat wajahnya terlihat tegas dan terkesan pintar, aku tidak tahu kalau saat dia mengenakan kacamata wajahnya sedikit terlihat dewasa dan seperti menunjukkan kepribadian lain dari dinya, mungkin bagas sadar tengah diperhatikan oleh ku, karena sekarang dia menatap balik ke arah ku dan sedikit menyipitkan matanya seperti bertanya ‘apa’ aku menggeleng dan menyunggingkan sudut bibir ku, membuat nya mendengus dan kembali pada kegiatannya.

Pelajaran sudah berlangsung 2x45 menit nonstop, aku mulai merasa bosan dan meminta ijin untuk ke toilet, aku berjalan mnyusuri koridor dan berhenti tepat di depan toilet pria, dan segera melangkah masuk.

Setelah selesai mengancingkan kembali resleting dan mencuci tangan ku, aku merogoh kantung saku ku, mengambil sebuah kotak yang biasa disebut orang sebagai rokok, dan mengambil sebilah rokok itu, menyalakan nya dan menghisapnya, menghembuskan nya keluar, sesaat aku menikmati ini seperti biasa tapi benak ku mengatakan agra aku berhenti, aku menatap rokok yang berada di sela kedua jariku, dan teringat sesuatu yang membuat ku menginjak nya.

“BERHENTI BERSIKAP BODOH!”

“ini ga seberapa disbanding keselamatan nyawa kamu.” “ada ataupun tidak, kamu harus mikir mana yang baik.”

Aku diam ditempat ku, ya aku pikir yang dikatakan bagas benar, mungkin selama ini cara ku untuk menenangkan diri salah, tapi aku kembali memberontak dengan pikiran sehat ku

‘apa peduli nya? Dia bukan siapa-siapa! Dia tidak tahu dengan kehidupan ku.’

Entah kenapa aku sebenarnya tidak mengerti dengan diriku, di satu sisi aku selalu membenarkan apa yang bagas katakan dan lakukan padaku, tapi disisi lain aku takut untuk dijatuhkan dan dibodohi, karena aku sudah cukup dengan hidup yang kasar dan kelam seperti ini.

-----------------------**----------------------

BAGAS POV’S

Setelah meminta ijin ke toilet, kurasa sekitar 10 menit kemudian baru bagas kembali ke kursinya, sorot matanya tidak terlihat seperti saat ia menatap ku, sorot matanya seperti menyembunyikan sesuatu yang membuat nya sedih tapi entahlah aku tidak tahu, karena dia pandai menyembunyikan ekspresi dibalik wajah datar dan dingin nya itu, ku harap dia baik-baik saja.

Aku juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku mulai memikirkan nya, tapi tidak mungkin aku menyukai nya, aku masih waras. Aku meyakinkan diriku, bahwa aku mungkin hanya bersimpati karena beberapa kali menemukan nya dalam keadaan mengerikan dan butuh pertolongan, tapi sejak saat itu entah kenapa hati ku bertekat untuk menolong dan melindungi nya.

“Tch! Melindungi ku? Jangan bercanda, apa yang bisa kamu lakukan untuk melindungi ku?!”

Aku menunduk, benar juga aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk arga. Mungkin aku memang tidak bisa menjadi seperti apa yang ku katakana padanya, omong kosong macam apa ini? kenapa aku mencoba memasuki kehidupan orang lain, padahal sebelumnya aku tidak pernah peduli dan masa bodoh dengan kehidupan sekitar ku, tapi kenapa saat arga? Aku merasa ingin tahu apapun tentang nya.

Dada ku terasa sesak, apa ini kenapa dengan ku sekarang? Ini bukan bagas yang selama ini ada di dalam diriku, ini bukan diriku yang sebelumnya.

-------------------------**------------------------

Bagas dan arga asyik berargumen dengan diri mereka masing-masing hingga pelajaran usai dan dosen keluar, membuat suasana riuh seperti biasa. Radit dan rehan masuk ke dalam ruangan, menepuk punggung arga membuat nya sedikit terkejut dan  berhenti dari lamunan nya.

“ga, udah lama nih kita-kita ga clubbing, gimana kalau malam ini?” Tanya radit sembari duduk di atas meja di samping kursi arga, “malam ini? hmm” arga sedikit berpikir sebelum mengambil keputusan nya, dan mengangguk.

Membuat radit dan rehan toss dengan keputusan arga, “oke ntar malam kita tunggu!” kata rehan sembari memainkan ponselnya, “oke kita cabut dulu! Ga.” Radit menarik rehan keluar dari ruangan untuk menuju kantin, arga membentuk senyum di wajah nya, ya arga sudah lama tidak main-main ke dunia gemerlap itu.

Bagas beranjak dari kursinya dan berjalan lurus keluar ruangan tanpa menoleh, arga juga nampaknya tidak berniat menghentikan kepergian bagas, karena dia sedang senang dan menunggu malam hari untuk menghabiskan waktunya dan bersenang-senang dengan teman-teman nya.

Sebenarnya saat arga berbincang-bincang dengan teman-teman nya bagas sempat mendengar, karena jarak kursi bagas dengan arga hanya 3 kursi dan ruangan sedang kosong, itu yang menyebabkan bagas segera ingin pergi dari ruangan itu, ia sudah tahu sekarang arga tetap pada pendirian dan kebiasaan nya, tidak ingin berubah sedikit pun.

---------------------------------**------------------------

See what’s next? Mereka sedang dilema, jadi tetap support dan vote + comment agar cerita tetap berlanjut dan di publish

THANKS, I’LL DO MY BEST!

UNKNOWN

[text_hash] => 167d6746
)

Comments

What do you think?

0 reactions
Upvote
Funny
Love
Surprised
Angry
Sad


  • No comments yet.

Login





Loading...