Array
(
[text] =>
Waktu berlalu begitu cepat dan kini arga sudah menaiki motor nya untuk pergi ke club seperti yang sudah ia janjikan bersama radit dan rehan, malam begitu dingin menerpa arga yang kini berkendara dengan cepat menuju klub malam.
Radit dan rehan sudah menunggu di depan dengan mobil mewah milik rehan, radit keluar menghampiri arga yang sudah sampai, dan mengajak arga segera masuk, meninggalkan rehan yang sedang mengamankan mobil nya.
Mereka berjalan masuk ke dalam, ruangan ini sempit dan dingin, juga gelap mereka terus berjalan masuk hingga terlihat sebuah pintu besar, yang dijaga oleh dua orang yang nampak seperti preman, arga dan radit mengeluarkan sebuah kartu dan menunjukkan nya pada dua orang itu, dan mereka segera masuk ke dalam, saat masuk ke dalam dunia gemerlap menyambut kehadiran mereka, dan suara dentuman nyaring musik yang dimainkan sang dj membuat telinga siapa saja memekak, membuat setiap orang tidak akan mendengar apa yang mereka bicarakan jika hanya berbicara secara wajar.
Radit berjalan ke tengah dance floor di ikuti rehan yang kini sudah masuk, dan membawa seorang gadis bersamanya, arga memilih untuk duduk di bar dan menikmati beberapa gelas minuman, arga duduk mengambil posisi nya di bar dan memesan minuman pada sang bartender, arga menerawang sekeliling nya, dipenuhi para manusia yang hidup dalam dunia yang mereka sebut surga, setiap pojok sofa kita dapat melihat pemandangan-pemandangan panas dari para penikmat dosa, ada yang tengah bercumbu dengan panas nya, ada yang sedang berjudi di beberapa meja, ada para bos atau seo yang sedang bermain dengan para wanita jalang dan ada beberapa orang yang sedang menghisap dan memakai obat-obatan terlarang, ya ini tempat bebas jadi terserah mereka, karena uang di tangan mereka maka tempat ini akan siap menampung mereka.
Arga memandang ke arah dance floor mencari dua sosok yang mengajak nya kemari, mata nya berkeliling dan menemukan radit yang sedang menari gila-gilaan disana bersama beberapa gadis murahan, dan rehan yang sedang asyik bercumbu di tengah-tengah dance floor dengan gadis yang dia ajak kemari tadi, arga berdecak dan menggelengkan kepalanya.
Dua orang gadis mendekat ke arah nya dan mencoba menggoda arga dengan tubuh sexy mereka, tapi arga sedang tidak tertarik. Dia menghiraukan para gadis yag terus menggoda nya itu, arga meneguk habis minuman nya, dan dengan marah arga menyiram dua gadis itu dengan sedikit sisa cairan yang berada di gelasnya, membuat para gadis itu memekik kesal dan menjauh.
“dasar! Sok tampan!” oceh salah satu gadis, “pria brengsek!” sambung gadis yang satunya hingga mereka berlalu.
NEXT SIDE
Bagas terbangun dari tidur nya di malam hari, dan segera berlari ke kamar mandinya memuntahkan isi perut nya yang kosong ke wastafel, entah kenapa saat ia terbangun rasanya perut nya mual.
Bagas melihat ke arah dinding, jam di dinding menunjukkan pukul 20.05 malam, wajah nya sedikit terkejut ‘aduh, sepertinya aku terlalu lama tidur..’ bagas menatap jendela dekat ranjang nya yang terbuka, bagas berjalan mendekati jendela, wajahnya diterpa angin malam, ia segera menutup jendela itu rapat.
Tring—tring..
Bagas merogoh kantung celana nya dan menemukan pesan singkat yang dikirim seseorang untuk nya, dan membuka apa isi pesan tersebut.
“bisa datang ke sini? –alamat-“
Bagas sedikit bingung, ia tidak membalas pesan itu segera, melainkan sedang berpikir akan pergi atau tidak.
Dan bagas sepertinya sudah punya jawaban sehingga ia bergegas menuju lemari pakaian nya, mengganti kaos nya dan mengambil jaket yang sudah tergantung di samping lemari nya. Bagas yang jarang sekali memakai mobil nya kini, bergerak mengambil kunci mobil yang terletak di dalam laci meja nya, bagas mengunci pintu apartment nya dan turun ke basement dimana mobil nya terparkir, berjejer dengan mobil-mobil penghuni apartment yang lain.
Bagas menyetir dengan kecepatan standart, dan menuju lokasi yang sudah diberikan oleh pengirim pesan.
*skip
Bagas sudah sampai, ia menatap layar ponsel nya dan mengecek sekali lagi kebenaran alamat yang diberikan itu. Tapi ia belum juga turun dari mobil nya, karena takut masuk ke tempat yang salah karena yang sekarang berada di depannya adalah sebuah klub malam yang nampak nya kurang bagus untuk di datangi, ‘kenapa orang itu menyuruh ku kesini?’
Bagas masih diam ditempatnya, dan mencoba berpikir akan masuk atau tidak. Saat ia berkecamuk dengan pikiran nya, ponselnya berdering, bagas segera mengangkat nya
BAGAS POV’S
“halo?”
Terdengar suara riuh di ujung telpon penelpon, “gas..” suara balasan itu lirih, aku mengerjap-ngerjap terdiam “Eh? Ga kamu kenapa?” aku mengeryit bingung dan menatap kembali nomor ponsel yang mehubungi ku, benar itu nomor yang mengirim pesan padaku tadi. Dan belum sempat aku bicara lagi dia mematikan sambungan telpon nya, aku menjadi sedikit panic dan tanpa pikir lagi aku segera masuk ke tempat gelap itu, dan sekarang dua orang penjaga sudah menagih-nagih kartu nama ku, aku memberikan nya dan mereka saling tatap dan seorang di antara mereka menarik ku menjauh
“ini bukan daerah mu nak..” katanya dan mengulurkan kembali kartu pengenal ku, “tapi—pak!” dan yang satunya mulai turun tangan mengeluarkan ku dari tempat itu, aku berdecak sebal “pak! Dengarkan aku! Aku ingin menjemput teman ku!” aku mengumpat kesal kea rah penjaga tempat yang masih mengeret ku keluar itu, ia terdiam sebentar “berapa kau berani membayar?” kini terdapat kilatan dimatanya.
Ok baiklah, aku menyerah dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet ku, “ini! Aku tidak akan lama, aku hanya ingin menjemput teman..” ungkap ku kembali, dan ia mengangguk dan kembali membawa ku masuk, teman nya ingin menahan ku tapi pria yang mengeret ku keluar tadi memberikan nya penjelasan agar aku dapat masuk. ‘uh, aku menyogok orang..’ pikir ku, aku bergidik dan terus menyusuri tempat ini, tempat ini terlalu ramai aku terus berjalan masuk, hingga dance floor aku melihat radit yang bersama seorang gadis dan kini pakaian nya seperti teracak-acak, aku menutup mulut ku untuk menjauh dari pemandangan mengerikan ini.
Aku terus menerobos masuk, mencari sosok arga dan kaki ku sudah berjalan hingga bar, mata ku menelisik dan terperangah menatap arga yang kini sedang duduk dengan berbotol-botol minuman, aku berjalan mendekati nya, arga menyandarkan kepalanya disisi bar, aku sedikit hendak muntah karena mencium baru yang menyeruak masuk ke hidung ku, “kau teman nya? Bawa pergi dia, sebelum dia tidak berhenti memesan..” kata seorang bartender pada ku.
Aku mengangguk dan menarik arga, sedikit menyeret nya untuk membawa nya keluar, wajah nya terlihat sayu dan mengerikan walaupun ketampanan nya tidak pernah hilang, tapi tetap saja ini tidak baik. Tiba-tiba arga mengambil alih tangan ku yang sedang berusaha membopong nya walaupun kenyataan nya aku menyeretnya, “eh? Arga kamu udah sadar?” apa aku bodoh menanyakan ini? Ya karena aku tidak pernah tahu sekuat apa efek minuman-minuman itu.
Arga mendorong ku salah satu sisi dinding, dan menghimpit tubuh ku dengan tubuh nya yang sedikit lebih besar dariku, oke aku menekankan kata sedikit karena aku laki-laki. Mata nya menatap ku nyalang, lekat dan seakan tak memperbolehkan ku menjauh dari pandangan nya, aku sedikit terhenyak karena aku menahan nafas ku diposisi ini, tanpa tahu apa yang terjadi seakan ada magnet yang melekat pada tubuh ku, arga mencium bibir ku dengan ganas, bau itu kembali menyeruak membuat ku tak tahan, untuk tidak membuka mulut ku, ia semakin mendorong dan menghimpit tubuh ku disetiap ciuman nya, melumat mengecup menjilat dan membuat perut ku geli dengan kelakuan nya, aku tidak bisa menahan ini lagi, aku mengangkat kedua tangan ku dan mengacak rambutnya mendorong kepalanya agar mencium ku lebih dalam.
Ini seperti listrik yang tiba-tiba menjalar ke tubuh mu, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya tapi kenapa saat bersamanya dunia ku runtuh, aku tidak bisa menahan hasrat ku saat bersama dan saat arga mencium ku seperti ini, membuat ku merasakan dunia yang berbeda yang tak pernah ku tahu apa itu. Dan saat aku mulai kehabisan nafas ku, arga melepas ciuman nya dan menatap lekat kea rah ku dengan manik matany, oh lihat aku dapat melihat matanya bersinar memandang ku. Dan setelah arga menatap lekat kea rah ku untuk beberapa detik, dia ambruk di tubuh ku, membuat ku harus mendengus sebal karena mencoba menahan berat tubuh nya.
“apa yang kamu pikirkan? Berhenti membuat ku gila..” aku bergumam, sembari menarik nya keluar dari tempat yang membuat ku sakit kepala itu, penjaga yang sudah ku sogok tadi melihat ku yang tengah bersusah payah membopong arga, dia menatap ku dan arga yangsedikit mendengkur di pundak ku bergantian “pacar mu baik-baik saja?” tanyanya membuat mata ku terbelalak kaget dan wajah ku memanas, ya wajah ku merah padam saat ini.
Kemudian pria yang satunya sedikit terkekeh, “maafkan dia, dia terlalu sering melihat pasangan gay masuk tempat ini.” Aku mengangguk saja, dan kembali menarik arga, dengan bantuan dari para penjaga itu. Mereka meninggalkan ku dan arga setelah sudah berhasil membantu bagas membawa arga hingga parkiran, aku membuka pintu mobil ku dan mendorong arga masuk ke kursi belakang, dia tertidur sekarang, aku menghela nafas, dan segera berpindah menuju setir ku dan mengemudikan mobil ku untuk pulang, karena aku tidak mungkin membawa arga dengan keadaan seperti ini, aku membawa nya ke apartment ku karena aku tahu ayha nya pasti akan membantai nya di tempat jika melihat arga dengan keadaan yang kacau dan berbau minuman seperti itu.
--------------------------------**------------------------------------
ARGA POV’S
Kepala ku berdenyut sakit sekali, aku mengerjap-ngerjap melihat dimana aku berada, tapi tubuh ku tidak bisa bergerak, aku menyerah pada posisi ku. Aku menatap tempat ini, aku seperti nya berada dalam mobil, dan benar saja saat aku menoleh dan melihat ke depan menemukan seseorang yang sedang mengemudikan mobil ini, aku tidak tahu siapa itu, aku berusaha untuk bangun dari tempat ku tapi urat saraf kaki dan punggung ku seperti mati rasa, aku menengok sedikit untuk melihat kaca atas kap mobil, wajah serius itu tengah memandang jalanan malam yang begitu ramai, itu bagas. Tapi kenapa dia bisa membawa ku? Aku menatap nya dan saat kepala di depan ku menengok ke belakang, aku berpura-pura tidur lagi, tapi di sudut mata ku yang sedikit terbuka aku dapat melihat nya mengulas senyum nya walaupun samar.
Mungkin karena dari tadi aku menutup mata ku, aku tidak sadar kalau pintu mobil ini dibuka, dan orang itu meraihkan tangan nya mencoba mengangkat tubuh ku, dan membopong ku walaupun dia sebenarnya hanya menarik tubuh ku dan mengalungkan lengan ku padanya dan menyeret ku, aku berusaha membuka mata ku yang sudah sangat berat, aku dapat mencium bau maskulin dari tubuh nya, bagas menoleh kearah ku yang sedang memandangi nya dengan bingung, dia tersenyum lagi seperti yang dia lakukan di mobil “kamu sudah sadar?” Tanya nya pelan tanpa melepaskan tubuh ku dari nya, aku memutar bola mataku.
“kamu bisa berjalan sendiri?” Tanya nya lagi, dan aku segera menjauh kan tubuh ku, dan mencoba untuk berjalan tapi tubuh ku hilang keseimbangan dan terhuyung, tangan hangat itu memegang ku, dan membantu ku berdiri, aku menatap bagas sekarang. Hingga aku berhasil masuk ke tempat yang asing bagi ku, ini bukan wilayah rumah ku.
“kemana kamu membawa ku?” Tanya ku, bagas mendelik dan melepaskan sepatu nya. “ini apartment ku.” Jawab nya singkat, dan kembali membantu ku berdiri, dia menduduk kan ku di sofa empuk milik nya, dan melepaskan jaket ku, aku hanya diam menatap nya, dia melepaskan sepatu ku dan membenarkan posisi duduk ku.
Saat dia berada di bawah ku untuk melepas sepatu ku, entah apa yang kupikir kan aku menarik nya hingga duduk tepat di pangkuan ku, mata ku menggelap saat melihat wajah nya yang memerah, aku menjatuh kan tubuh nya dan menindih nya. Dia menatap ku takut, dan meremas ujung sofa nya, aku masih pada posisi ku tak bergerak.
To be continued-----------**
Apa yang akan terjadi setelah ini?
Berikan support kalian, dengan vote + comment agar aku bisa memberikan fanservice untuk kalian :D I’ll do my best!
UNKNOWN
[text_hash] => 8adca0c8
)
What do you think?