Array
(
[text] =>
BAGAS POV’S
Wajah ku memanas, tubuh ku gemetar bau tubuh nya menyeruak hebat, aku tidak tahan lagi aku menutup mataku ragu-ragu. Apa yang akan dia lakukan sekarang padaku?
Pertama, dia membuat ku tertarik ke dalam kehidupan nya hingga mengucapkan janji konyol “Aku akan melindungi mu..”kedua, saat dia menyentuh ku dan mencium ku aku seakan menyerahkan tubuh ku untuk disentuh lebih oleh nya, dan ketiga saat dia menatap dalam ke mata ku aku merasakan gelenyar aneh pada diriku, dan ke empat aku mulai bertanya apa aku menyukai nya? Tapi aku bahkan bukan gay, dan tidak pernah berpacaran sebelumnya, dan kelima apa ini hanya sekedar suka atau ini yang disebut “jatuh cinta, aku jatuh cinta pada arga”.
Kembali ke fakta yang terakhir, kini aku berada di bawah tubuh nya dan aku dapat merasakan tangan nya menelusup ke dalam kaos ku dan meraba-raba bagian dalam tubuh ku, oh shit! Kenapa aku tidak bisa melawan tapi malah diam saja, tubuh ku merasakan sesuatu yang aneh saat dia mulai menyentuh dada ku dan my little nipple, “BLOODY HELL! Aku tidak tahan lagi..” dalam kepala ku sudah mulai berteriak, nafas ku tercekat saat dia kembali mencium ku, dan mengusap-ngusap perut ku meninggalkan sensasi geli pada aliran darah yang mengalir pada tubuh ku.
Aku merasakan arga mengusap kepala ku, dan mengecup nya. “maafkan aku..” aku membuka mata ku, dan menatap nya dia beralih menjauh dari sofa ku dan menuju dapur ku, aku membenarkan posisi ku kembali, “k-kenapa?” aku bertanya dengan gumaman rendah dan sedikit kecewa.
Arga mendekat kembali ke arah ku sambil membawa dua gelas air mineral, dia menawarkan air itu pada ku dan aku mengambil nya, meneguk nya hingga habis. Ku dengar dia menghela nafas berat, menyandarkan kepala nya pada sandaran sofa, aku menatap nya bingung.
“untuk apa minta maaf?” Tanya ku membuka pembicaraan, arga menaruh gelas nya dan melihat ke arah ku, “karena aku salah” jawab nya dengan suara serak nya.
“salah?”
Arga mengangguk , “aku salah, ini tak seharusnya terjadi. Aku tak seharusnya melakukan –“ kalimat nya tergantung, dan dia kembali menhela nafas “itu pada mu, aku terlalu gegabah.”
Aku dapat melihat mata nya menyiratkan kesedihan, dia menunduk, aku sedikit bergeser dari duduk ku dan mendekat ke arah arga, tangan ku terulur memeluk nya, aku dapat merasakan dia sedikit tersentak karena ulah ku,
“sudah ku bilang, aku akan melindungi dan menjadi tempat keluh kesah mu, lakukan apapun yang kamu ingin..” aku tak tahu bibir ku dengan lancar nya mengeluarkan kata-kata itu, tanpa rasa ragu sedikit pun.
Arga menatap ku untuk melihat mata ku, aku tersenyum seperti yang biasa ku lakukan saat melihat nya mulai terlihat baik. Dia menjauh kan tubuh ku, melepaskan pelukan ku.
“Tapi kenapa?”
Jeda, cukup lama aku diam tak menjawab pertanyaan nya, arga juga diam, masih menunggu jawaban ku. aku mendengus, dan sedikit tertawa ke arah nya, arga menatap ku heran. Aku tertawa, aku menertawakan diriku sendiri yang tidak mau mengatakan hal sebenarnya pada nya.
“Aku baru menyadari nya, mungkin kamu mulai akan kembali meremehkan ku, tapi –“ aku kembali diam, aku mulai mengangkat wajah ku dan melihat arga yang semakin penasaran dengan jawaban ku.
“Aku menyukai mu” aku berkata dengan lirih, tapi kurasa dia bisa mendengarku dengan jelas karena ini hanya ada kami berdua disini.
Diam, tidak ada balasan dan dia tidak menatap ku, dia hanya diam tak bergerak di tempat nya. Dan menyandarkan kepala nya ke sandaran sofa dengan lambat-lambat seakan waktu di slow motion sekarang, udara di sekitar ku pun seakan diam, perlahan arga menutup mata nya dan memunggungi ku untuk tidur. Aku mengepal tangan ku, kini aku merasa menjadi pria terbodoh, setelah dia memberiku rasa nyaman, dan saat aku jatuh ke dalam perlakuan nya dia bahkan tak menjawab pengakuan ku, apa aku terlihat rendahan sekarang? Aku di permainkan.
Aku beranjak dari sofa dan berjalan menjauh, tanpa melihat ke belakang lagi aku masuk ke dalam kamar ku, menutup pintu nya dan berlari ke kamar mandi pribadi ku, mengunci pintu kamar mandi dan menyalakan shower, air dengan deras nya mengguyur membasahi seluruh tubuh ku yang masih terbalut pakaian, aku membenturkan kepala ku ke tembok kamar mandi ku, dan beringsut menjatuhkan tubuh ku, bersandar di dinding yang sangat dingin, air terus mengguyur badan ku.
-----------------------**------------------------
Setelah tidur dengan pulas, arga bangkit dari sofa dan berlari, ke dapur mencari wastafel memuntahkan seluruh isi perutnya, mabuk nya sudah menghilang sepenuh nya setelah ia beristirahat dan memuntahkan isi perutnya, arga membasuh wajah nya, mengambil gelas dan menuangkan air, meneguk habis air itu hanya dalam satu tegukan.
Arga kembali ke ruang depan, untuk mencari dimana bagas berada, menyusuri tiap ruangan yang ada di apartment ini.
ARGA POV’S
Mata ku menatap pintu yang tidak ku buka dari tadi, aku membuka nya dan ternyata itu kamar, mungkin ini kamar bagas karena lebih luas dari yang lain nya, mata ku berpendar tapi tak menemukan nya di dalam, aku duduk di atas ranjang ny, ‘apa mungkin dia pergi keluar?’
Aku melihat ke nakas nya yang di atas nya terdapat jam, jam itu masih menunjuk kan pukul 06.56 ini masih sangat pagi untuk pergi keluar, telinga ku mendengar suara percikan air yang penuh, mungkin bagas lupa mematikan air di kamar mandi nya, aku berjalan kea rah pintu itu, dan membuka knop pintu tapi sialnya pintu ini terkunci, aku menggerak-gerakan nya, dan mencoba menelisik di salah satu lingkaran yang terbuat dari kaca di samping knop, aku melihat shower yang menyala, dan mata ku membelalak untuk memastikan sesuatu, benar itu kaki manusia, apa mungkin?
Pikiran ku berputar untuk mencoba mengingat apa yang terjadi,
Flashback
“sudah ku bilang, aku akan melindungi dan menjadi tempat keluh kesah mu, lakukan apapun yang kamu ingin..”.
“Aku baru menyadari nya, mungkin kamu mulai akan kembali meremehkan ku, tapi –“
“Aku menyukai mu” bagas mengatakan kalimat terakhir nya dengan lirih, dan aku dapat dengan jelas mendengar nya, hanya saja aku tidak bisa berkat apapun, aku tidak meyangka dia akan mengatakan itu, tanpa malu.
Aku ingin menjawab nya, tapi sakit kepala ku menyerang tiba-tiba, kini aku menyesal harus mabuk-mabukkan karena ini membuat kepalaku kewalahan, dan menyerang di saat yang salah, aku berpaling dari nya karena aku tidak ingin menampakkan wajah ku yang tengah menahan sakit luar biasa di kepala ku pada nya, karena aku tahu dia tidak akan diam saja jika tahu aku sakit.
Flashback end
‘Apa mungkin dia marah karena aku tidak menjawab nya?’ Oh sial! Apa yang telah ku perbuat, tiba-tiba suara air semakin terdengar deras di telinga ku, aku tersadar dan kembali berusaha membuka pintu kamar mandi itu. Aku mencari-cari kunci yang dapat ku gunakan, di sekitar lemari dan nakas nya tapi nihil, tidak ada kunci yang seperti kamar mandi.
Aku mundur beberapa langkah dan mencoba mendobrak kunci itu, tidak berhasil, aku kembali mencoba kali ini lebih keras dari sebelumnya, dan kurasa pintu ini mulai bisa dibuka, aku mencoba lagi untuk ketiga kalinya dan BRAKK!!
Aku terdorong ke dalam, dan terjatuh, aku bergegas berdiri, mematikan shower yang terus memancar, kaki ku bergetar mendekati bagas yang tak sadarkan diri, aku memegang wajahnya, dingin sekali dan wajah nya sangat pucat, aku memeriksa oxygen nya, napas nya seakan terputus-putus, aku menggendong nya keluar dari kamar mandi itu dan merebahkan badan nya yang sudah seperti mayat hidup itu ke ranjang nya, begitu pucat dan dingin.
Aku panic sekarang, aku menggoyang-goyangkan badan nya tapi dia masih tidak bergerak, aku menyeka tubuh nya dengan handuk dan membuka pakaian nya, aku berlari ke lemari, mengacak-acak lemari nya mengambil kan pakaian ganti, aku memakai kan pakaian ganti itu pada nya, dan menyelimuti badan nya.
Aku keluar dari kamar nya, mengambil air hangat dan menaruh nya ke dalam baskom, mengkompres kepala nya, bagas masih tak bereaksi, aku ketakutan sekarang apa yang harus ku lakukan, tangan ku merogoh kantung celana ku dan mengeluarkan ponsel ku, aku menelpon seseorang.
Aku berjalan mondar-mandir seperti orang linglung, menunggu orang yang ku telpon datang, dan 10 menit kemudian orang itu datang, aku berlari keluar dan membuka kan pintu, orang itu memakai pakaian resmi yang serba putih dan membawa tas tangan untuk pemeriksaan, ya dia seorang dokter, aku memanggil dokter pribadi ku untuk memeriksa keadaan bagas.
“Bagaimana keadaan nya?” Tanya ku saat ia selesai memeriksa.
“Teman mu tidak apa-apa, hanya butuh istirahat dan minum obat dari resep yang ku berikan, untuk pemulihan, mungkin dia sedikit stress, darah nya sudah berjalan dengan lancar jadi tenang saja tidak ada yang membeku ..” jawab dokter itu.
“Terima kasih Ryan.” Aku menjabat tangan dokter itu, dia hanya 3 tahun lebih tua dari ku, jadi aku bisa memanggil dan bercakap dengan nya lebih santai, tanpa keformalan.
Setelah Ryan pergi dan memberikan resep pada ku, aku pergi keluar untuk membeli obat-obat itu di apotik terdekat. Dan pulang membawa bubur serta beberapa macam obat untuk di konsumsi bagas nanti.
Kantung celana ku bergetar, saat aku baru saja akan melangkahkan kaki ku ke kamar bagas.
“ANAK BODOH!! KEMANA SAJA KAU?!!” aku menjauhkan telinga ku dari ponsel saat mendengar ayah berteriak.
“PULANG SEKARANG JUGA!! ATAU AKU YANG AKAN MENYERET MU DARI SANA!!” Aku menghela nafas panjang, ‘bagas maaf, aku tidak bisa menemani mu disini’ aku menoleh menengok bagas yang tengah berbaring di ranjang nya dengan tenang nya, wajah nya tak pernah sedamai ini sebelumnya, biasa nya aku melihat wajah pemuda pintar yang tersenyum dengan senyum indah yang terukir dan sedikit dewasa, tapi lihat wajah nya begitu tenang dan santai sekarang, ingin aku menyentuh dan mencium kening nya jika saja ayah tidak mengagetkan ku sekarang –
“ARGA!! APA KAU SEKARANG TULI? KAU SUDAH BERANI TIDAK MENDENGAR KU?!!!”
“Aku akan segera pulang, yah”
Tut.. Tut.. Tut –“ sambungan di putus segera. Aku bergegas menaruh obat, serta resep nya juga bubur yang masih mengepul di atas nakas samping tempat tidur bagas, aku tidak sempat meninggalkan note apapun karena aku segera berlari keluar dan mengambil motor ku ke club dan pulang dengan cepat.
----------------------**----------------------
Kini arga sudah sampai dirumah nya, ayah nya sudah menunggu di depan ruang tamu berdiri dengan gagah nya beserta beberapa bodyguard yang selalu siap siaga menjaga nya, arga masuk dengan kaki yang terasa lemas, dia menunduk tak mampu menatap kearah ayah nya.
“Darimana saja? selama aku tidak dirumah ku, kau bisa sebebasnya membuang waktu mu dan bermain-main DILUAR SANA?!!”
Arga hanya diam dia tak berkutik, “KEMARI KAU! LIHAT AKU! JIKA KAU TIDAK MELAKUKAN KESALAHAN, TUNJUKKAN MUKA MU!”
Arga mengangkat wajah nya pelan dan melangkah sedikit maju mendekati ayah nya dan PLAKK--!
Arga meringis, ayah nya menampar wajah nya dengan begitu keras, walaupun wajah pria itu tidak menampakkan kemarahan, tapi arga tahu wajah datar ayah nya memendam seribu ekspresi yang tak bisa terbaca. Pria itu memerintah kan bodyguard nya untuk memegangi arga, arga hanya terdiam pasrah, karena dia memang salah kali ini. Beberapa kali ayah nya memukul nya dengan cambuk kecil, dan menghajarnya beberapa kali hingga arga terjatuh terduduk di tempat nya.
Kalian ingin tahu bagaimana rasanya? Rasanya seperti, kalian berdarah sedikit dan di atas luka kalian diteteskan jeruk nipis dan garam bersamaan, setelah itu luka kalian disayat lagi hingga terkelupas. Apa itu tak terlalu perih? Cambukan itu sangat perih saat menyentuh kulit, tapi Arga sudah terlalu sering diperlakukan seperti ini jadi dia tahu benar bagaimana rasanya menahan sakit.
Setelah ayah nya merasa cukup memberi arga pelajaran, dia diseret naik dan dilempar ke kamar nya dan di kunci dari luar hingga arga tidak bisa keluar untuk beberapa hari. Arga memaki beberapa kali pada bodyguard yang memperlakukan nya layak nya binatang itu, dia juga beberapa kali mengumpat dalam hati nya saat ayahnya menghajar nya.
“Ibu, tidak bisa kah kamu disini?” arga menatap kosong remang lampu-lampu di kamar nya hingga pandangan nya berkunang-kunang dan ia terjatuh, karena terlalu lelah.
NEXT SIDE
Bagas menggerakkan kepala nya sedikit, dan mulai membuka mata nya perlahan, kepala nya terasa lebih ringan, dia menoleh ke kiri-kanan mencari dimana dia, “kenapa aku di kamar ku? sebelumnya aku –“
Bagas mengingat-ingat kejadian saat dia berdiri di bawah pancuran shower dan merutiki dirinya karena perlakuan arga, kemuadian mata nya menatap sekitar nya mencari sosok arga.
“Mungkin dia membawa ku kesini?” bagas menyibak selimut nya dan menemukan dirinya sudah berganti pakaian rumah, dia sedikit meyunggingkan senyumnya, bagas melihat kea rah nakas nya dan menemukan beberapa macam obat beserta resep dokter, ia menatap kertas itu dan beranjak dari tempat nya dengan pelan ke dapur berharap menemukan arga, tapi di apartment nya tidak ada seorang pun saat ini, bagas sedikit mendengus sebal.
“Meninggalkan ku sendiri? Cih! Dasar pria aneh..” dia bergumam sembari menuang air ke gelas.
--------------------**--------------------
Maaf, update kali ini aku membuat season yang begitu dramatis :D ku harap kalian bisa menyukai nya, aku kira ini tidak terlalu bagus jadi aku menyerahkan pada kalian apa ini wajar diberi vote atau tidak. dan aku minta maaf karena typo-typo yang pernah terjadi, maklumi saja
Komen jika kalian ingin member masukan dan kritikan PEDAS atau apapun, you are free to criticize, I would greatly appreciate it!
UNKNOWN
[text_hash] => 32fd593e
)
What do you think?