Array
(
[text] =>
Aku minta maaf karena terlambat update, akhir-akhir ini karena jadwal siaran ku semakin padat akhir-akhir ini, maaf sekali *bow
OK, Let's read!
-
-
-
Besok harinya, bagas sudah merasa tubuh nya agak membaik berkat obat yang dibelikan arga serta resep dari Dr. Ryan, bagas sudah membulai aktifitas paginya seperti biasa.
Bangun pagi, menyiapkan sarapan, mandi dan sarapan kemudian menunggu waktu hingga ia berangkat ke kampus, tapi kali ini bagas memakai mobil nya karena tubuh nya tidak mendukung untuk berjalan kaki yang berjarak lumayan dari kampus.
Pagi ini matahari seakan berputar dengan lambat, membuat cuaca terlihat lebih mendung dari biasanya mungkin akan turun hujan atau entahlah kita tidak bisa memperkirakan karena kita bukan peramal cuaca.
Kampus terlihat agak sepi karena mungkin mahasiswa yang masuk pagi hari ini tidak terlalu banyak, itu membuat kampus lebih lengang dari biasanya, bagas berjalan menyusuri koridor dengan santai dan berhenti di depan sebuah kursi panjang yang menghadap langsung ke lapangan indoor, bagas memperhatikan mereka yang seperti sedang bermain-main ataupun sekedar duduk-duduk menunggu waktu atau dosen.
Bagas menatap lurus ke depan, mungkin akibat efek obat yang dia minum bagas merasa kepalanya berat karena mulai mengantuk, bagas beringsut dari duduknya merebahkan kepalanya hanya untuk sekedar beristirahat sebentar tapi tak lama matanya menutup hingga ia terlelap.
NEXT SIDE
Arga merasa tubuh nya terseret, ia mencoba membuka matanya perlahan. Dan benar ternyata para bodyguard ayahnya menyeret nya dari lantai kamar menuju gudang, arga menendang salah satu kaki bodyguard itu hingga ia kesakitan dan arga berdiri dengan cepat, tanpa menoleh menuju kamarnya.
Dengan cepat ia mengunci pintu kamarnya, arga berdiri membelakangi pintu sedikit menguras tenaganya berlari-lari dari lantai bawah ke atas menuju kamarnya.
"Apa yang kini akan dilakukan ayah pada ku?" arga bergumam sendiri sambil mengingat kenyataan kalau dia dipindahkan secara paksa ke gudang yang dipenuhi debu dan kotor itu, arga menggelengkan kepalanya.
Ia tak pernah habis pikir ayahnya masih tak bisa menerima kenyataan dia hidup hingga kini.
Unknown pov's
Flashback
19 tahun yang lalu, seorang anak terlahir dan merengek dengan suara tangisan yang begitu merdu membuat senyuman sang ibu mengembang, dia memegang dan memeluk bayi yang tak berdaya yang masih merah itu, mencium kening bayi yang mungil itu dengan penuh kasih.
"Selamat datang di dunia putra ku, kau adalah anugrah yang paling indah..."
Perempuan itu kembali mengecup kening bayi merah itu, "kelak kau akan tumbuh dewasa dan membuat semua orang disisimu bahagia, ibu mencintai mu.. Arga" perempuan itu member sebuah nama yang sudah lama ia rancang sejak ia mengandung.
Bayi dalam pelukan nya terisak dan tersenyum dengan bibir halus yang begitu mungil pada perempuan itu, seorang bidan mengambil bayi itu untuk dibersihkan.
Perempuan itu menatap ke langit-langit ruang bersalin, dan tersenyum. Ia menatap bayi yang sekarang mulai masuk ke air dan merasakan dingin dan segarnya air, bayi itu merengek-rengek membuat perempuan yang terbaring lemas di ranjang nya itu ikut tertawa, ia begitu senang dengan adanya bayi itu di kehidupan nya.
Bayi itu kembali ke dalam dekapan nya, dan sekali lagi ia mencium dan mengecup bayi itu, "ayah mu akan menjaga mu nanti, jadilah anak baik.." dan saat ia mengatakan itu, pegangan tangan nya terlepas, bayi itu meraung seakan ia tahu perempuan yang akan menjadi ibunya itu tak bersama nya lagi.
Sang bidan berlari mendekati ranjang dan terkejut dengan kejadian itu, ia menggendong bayi yang meraung-raung itu ke dalam pelukannya. Dan memanggil dokter setempat untuk memeriksa keadaan sang perempuan, tapi terlambat perempuan itu tak dapat diselamatkan. Ia meninggalkan dunia setelah ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang begitu tampan.
Seorang pria datang dengan tergesa, senyuman nya memudar saat ia melihat perempuan itu terbaring tak berdaya di ranjang nya, pria itu menangis, mengguncang-guncang tubuh perempuan itu, tapi apa daya tuhan lebih menyayangi perempuan itu, hingga ia ditarik ke surga agar tidak merasakan kesulitan saat di dunia.
Setelah pria itu tahu perempuan itu mengindap penyakit yang tak memungkin kan untuk proses persalinan normal, ia begitu terpukul karena ia begitu menyayangi perempuan itu dan saat paling menyedihkan adalah ia tidak dapat melihat wajah terakhir dari perempuan itu, membuat hatinya hancur dan menyalahkan siapa saja yang ada, hingga semua petugas di rumah nya keluar dari rumah nya untuk menghindari amukan.
Tapi seorang bayi tak berdosa yang tak mengerti apa-apa itu merengek-rengek membuat pria itu tambah marah, ia menghampiri keranjang bayi itu dan meneriaki bayi itu membuat bayi itu semakin menangis karena ketakutan, tapi mungkin itu membuat pria itu bertambah emosi karena pekikan tangisan bayi itu, ia mendiamkan bayi itu, meninggalkan bayi itu seorang diri hingga mlam hari, mungkin karena lelah menangis dan tak dihiraukan bayi itu diam tak bergerak tidur hingga pajar menyingsing, sampai salah seorang perawat yang masih tinggal dirumah itu untuk bersih-bersih menemui bayi itu dengan badan panas, ia sakit.
7 tahun berlalu
Anak itu kini sudah tumbuh menjadi bocah sd dengan wajah menggemaskan, dia memiliki wajah seperti seorang malaikat yang dapat menenangkan hati bagi siapa saja yang melihatnya, tapi itu tak berlaku pada pria yang sering ia sebut ayah, pria itu bahkan menampakkan senyum nya saat berada di dekat anak itu.
Dan kini ia berumur 12 tahun, ia menginjak usia remaja, kini ia mulai tahu dan menganggap ayahnya tak mencintai nya karena di umur ini ia sering mendapat pukulan serta teriakan jika ia sedikit terlambat melaksanakan ataupun lupa melaksanakan perintah ayahnya, ia terus menangis di malam hari karena tak mengerti dengan hidup nya, ia juga sudah merasakan pelecehan di umur ini, oleh beberapa kaka kelas nya yang gay, hingga ia menjadi sekarang ia memberontak karena ia tak ingin dipandang lemah oleh orang-orang disekkitar nya, dan ia tak ingin di anggap anak tak berguna oleh ayahnya. Ia selalu berusaha mencari cara agar ayah nya memandang dengan kasih sayang kearah nya tapi nihil, sampai saat ini pun hingga ia akan menginjak umur 20 tahun ayah nya semakin menjadi, bahkan kini ayahnya seakan menganggap nya bukan seorang anak.
Arga Rasetyo Dika, anggap saja seorang anak yang tak perlu ada di dunia ini.
Flashback end
'Mungkin dunia tidak pernah berpihak padaku, apa yang salah denganku?' terlintas pikiran yang menyakitkan di kepala arga, kenyataan bahwa ayah nya tidak pernah menginginkan dirinya hidup, dan ibu yang meninggal saat melahirkan nya.
'apa karena aku tidak berguna? apa karena aku tidak diinginkan? kau menghukum hidupku?' semua pikiran buruk terus terlintas dibenak arga.
Suara gedoran pintu membuat lamunan nya buyar, arga menahan dan menarik kunci agar para bodyguard itu tak bisa menangkap nya, arga mengambil beberapa lembar pakaian nya dan memasukkan nya kedalam ransel nya dan memasukkan elektronik berharga milik nya, mengemas beberapa perlengkapan serta uang yang di perlukan, ia memiliki ide gila untuk melarikan diri dari rumah ini, ia sudah tidak tahan dengan semua aturan dan kekerasan yang dilakukan ayahnya.
Arga menengok melalui jendela untuk meloncat ke bawah, melihat suasana yang memungkin kan arga mengambil tali yang berada di bawah ranjang nya dan mengaitkan nya di jenfdela agar dia bisa turun ke bawah.
NEXT SIDE
Bagas masih memejamkan matanya hingga jam kedua, seharusnya ia mengikuti kuliah bukannya tertidur disini, tapi mungkin kali ini dia tidak bisa menahan matanya, bagas terlelap dengan nyenyak.
Sementara itu arga berhasil kabur dari rumah nya dan keluar dari komplek perumahan dimana ia tinggal , arga mengambil ponsel disaku nya dan menelpon rehan untuk menjemput nya.
"Jemput aku sekarang di ______" Arga mempercepat langkahnya sembari memberitahu rehan dimana ia harus menjemput nya.
Rehan segera menaruh kembali ponselnya setelah telpon dari arga berakhir, dan bergegas keluar ruangan nya untuk menjemput arga, rehan berlari-lari sepanjang koridor hingga tak sengaja ia tak melihat bagas yang sedang terlelap dengan kaki yang sedikit naik hingga membuat nya tersandung, rehan mendesis kesal, segera berlari menjauh menghiraukan bagas yang kini terbangun dan memaki kesal kearah rehan yang tengah berlari.
"Apa aku tidak bisa tenang sedikit saja?" bagas menggerutu dan mengangkat tubuh nya beranjak dari tempat nya itu untuk ke kantin, ia sedang bolos sekarang entah kenapa bagas sedang sangat malas untuk masuk.
Bagas membeli air mineral dan meneguk nya kuat-kuat segera menghabiskan nya, bagas berniat untuk pulang sekarang juga jadi ia menyeret kaki nya untuk berjalan keluar kampus, hari ini terasa sangat membosankan bagi bagas dan bagi pembaca *mungkin :D
Rehan sudah sampai di tempat yang ditentukan arga, arga dengan cepat menghampirinya dan segera masuk ke dalam mobil rehan,
"Ada apa?" Tanya rehan heran melihat arga yang sedikit was-was, seperti dikejar sesuatu.
"bukan hal penting, sekarang kita ke rumah kamu aja deh, aku mau istirahat.." arga memijat kening nya menatap kosong ke depan, rehan tidak berani untuk bertanya lebih jauh jadi ia memilih diam dan segera melajukan mobil nya menuju rumah.
*skip
Berselang 15 menit dalam perjalanan menuju rumah rehan, kini mereka berdua sudah sampai di rumah rehan yang tak kalah megah dari rumah arga hanya saja rehan hanya tinggal bersama adik laki-laki nya dan ibu nya, jadi rumah ini sangat sepi apalagi ibu rehan sering pergi untuk acara fashion.
"Kamu masuk kamar aja dulu, aku ambilin minum sama snack buat kita." Rehan berjalan ke dapur meninggalkan arga yang kini duduk di sofa ruang tamu.
-----------------------••-----------------------
BAGAS POV'S
Aku sudah kembali ke apartment ku sekarang, aku segera masuk dan beristirahat di kamar ku, menghempaskan tubuh ku ke ranjang. Hari ini aku sangat bosan, aku tidak tahu kenapa tapi sekarang pikiran ku kosong, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan.
Aku memejamkan mata ku mencoba untuk tidur siang, siapa tahu aku bisa rileks setelah tidur. Tapi mata ku tidak mau menutup untuk saat ini, rasa kantuk ku juga sudah hilang, aku menengok ke nakas ku dan mendapati obat ku, seketika arga memenuhi kepala ku, tapi apa aku pantas memikirkan nya lagi? Setelah ia melakukan penolakan.
Aku merutuki kebodohan ku, "Kenapa harus dia?! Arghh" aku mencengkram rambut ku kuat-kuat, aku harus menghapus perasaan ku pada nya, karena dia selalu
"kamu kira kamu siapa? Kamu bukan siapa-siapa? Huh, melindungi ku?! hahaha"
Suara itu berngiang di kepala ku, layaknya rentetan kaset rusak yang diputar secara acak dan terus-menerus. Aku menghempaskan tubuh ku, mengalihkan perhatian ku pada langit-langit kamar, "tapi ... apa dia baik-baik saja?"
Lagi lagi pikiran-pikiran konyol yang mengkhawatirkan nya muncul di kepalaku, aku tidak bisa melihat nya dengan keadaan nya sekarang, aku tidak bisa membuang nya dari hati ku, dan aku tak bisa membuat nya tersakiti oleh siapapun, tapi apa dia bisa menerima ku ?
Aku hanya seorang bagas yang bahkan tak tahu apa-apa tentang cinta, tak perduli tentang kehidupan, dan tak kenal siapapun kenapa kini bisa mementingkan orang lain yang bahkan tak menganggap aku siapa-siapa ....
To be continued ..
Baca, dan berikan terus dukungan untuk cerita ku dengan vote dan comment. Vote untuk menyukai dan menjadi pembantu agar cerita terus berlanjut, Komen jika kalian ingin memberi masukan dan kritikan PEDAS juga apapun, you are free to criticize, I would greatly appreciate it!
UNKNOWN
[text_hash] => de5f4a16
)
What do you think?